Paralaksitas (Cerpen Pergerakan)

Add Comment
Paralaksitas (Cerpen Pergerakan)

Oleh: Mubarak*

Ilustrasi Demonstasi Mahasiswa
Di sebuah ruang rawat inap kelas tiga berukuran 8 x 14, seorang pasien muda nampak terbaring lesu di salah satu ranjang besi yang terletak disudut ruangan itu. Matanya nanar memandangi langit-langit kamar, sesekali berkedip namun tak pernah terpejam lama. Bagian atas kepalanya dibalut kain kassa, nampaknya menutupi bekas luka yang cukup parah. Di sana juga terlihat ada jahitan di kening dan pipinya meskipun tidak lebar.

“Han, Iqbal dan kawan-kawan datang menjengukmu.” ucap seseorang mengejutkan lamunan pasien muda tadi.

Assalamu’alaikum, gimana kabarmu, Han?” tanya seseorang lainnya yang baru saja masuk dan seketika menghampiri si pasien muda yang terbaring tadi. Dengan sigap meskipun agak berat si pasien muda menyambut uluran tangan seseorang yang menanyakan keadaannya itu.

Alhamdulillah, sudah agak lumayan, Bal” jawab pasien muda tadi. Walaupun begitu kernyit di dahinya tidak dapat menyembunyikan betapa payahnya si pasien muda tadi.

“Tadi dokter yang memeriksaku sudah mengijinkanku pulang, walaupun seminggu lagi aku harus medical check up untuk memastikan kondisiku, kuatir jika ada organ dalam yang terluka” lanjut si pasien muda tadi, menjelaskan.

Si pasien muda yang terbaring sakit tadi adalah Farhan. Ia pimpinan organisasi intra kemahasiswaan di Kampus Ungu, sebutan populer oleh warga kampus untuk menyebut Universitas Kutai Kartanegara atau Unikarta. Farhan sudah terbaring sakit sejak tiga hari yang lalu setelah insiden tindakan represif oleh aparat gabungan Polri dan Satpol PP. Entah, bagaimana kejadiannya, massa gabungan yang terdiri dari organisasi intra dan ekstra kampus serta LSM penggiat transparansi keuangan daerah dan proyek lokal di Kabupaten Kutai Kartanegara ketika melakukan longmarch seketika dikejutkan oleh keributan kecil antar beberapa orang peserta longmarch dengan beberapa aparat keamanan. Keributan kecil yang seketika menjadi sporadis inilah yang membuat keributan besar. Situasi menegang dan massa pun menjadi panik. Mahasiswa terpengaruh untuk bertindak anarkis, melempar barang apa saja ke arah aparat kemanan, dari botol minuman hingga kerikil. Dilain pihak, aparat keamanan pun tersulut oleh cacian peserta aksi. Mungkin, jika hanya lemparan benda-benda tumpul masih dapat ditolerir oleh aparat karena mereka menggunakan tameng polikarbonat yang 250 kali lebih kuat dari kaca, tetapi karena etika berdemonstrasi tidak dijaga, mungkin inilah pulalah yang menyebabkan tindakan represif aparat, kala itu. Farhan sebagai salah satu koordinator lapangan aksi longmarch saat itu berupaya menenangkan massa, tetapi sabetan bertubi-tubi baton stick ke tubuhnya, entah oleh siapa, menyebabkan Farhan tersungkur, jatuh tak sadarkan diri. Setelah seharian tak sadarkan diri barulah Farhan siuman dari pingsannya dan baru menyadari bahwa tubuhnya sudah terbaring di rumah sakit, dengan balutan kassa dan jahitan di kening dan pipinya.

Perbincangan antarteman di ruang rawat inap kelas tiga itu berlanjut, hingga senja menghampiri, membiarkan mereka bercengkrama, bertukar cerita sambil menunggu putaran waktu untuk menjelang hari esok.

*****

“To, kita ke kampus, yuk. Aku ada perlu dengan Pak Awang” suara Farhan mengalihkan perhatian Anto dari gadgetnya. HP Samsung Galaxy Y jadul di tangannya itupun seketika ia abaikan demi mendengarkan arah bicara sahabat karibnya itu. Anto adalah salah satu mahasiswa di Fakultas Teknik Unikarta. Berbeda dengan Farhan sahabatnya yang kuliah di FISIP Unikarta dengan performa dan style berpakaian yang tertata dan rapi, Anto terkesan lebih simple meskipun kebersihan pakaian tetap harus dijaga. Karena bagi Anto, yang ayahnya seorang tokoh agama Islam di Muara Muntai, salah satu kecamatan di Kabupaten Kutai Kartanegara, pakaian yang bersih meski tidak terlalu rapi pada prinsipnya tetap bisa dibawa sholat.

Kedua sahabat karib itu pun memacu sepeda motor mereka ke Kampus Ungu, dari kos mereka di Jalan Gunung Gandek ke Unikarta di Jalan Gunung Kombeng tidak sampai sepuluh menit. Kini keduanya sudah tiba di Warung Bonex-nya Pak Eko.

“Kok, ke Warungnya Pak Eko, katanya mau ketemu Pak Awang?” tegur Anto ke Farhan.

“Iya. Tadi pagi sebelum ke sini aku sudah sms dengan Pak Awang, To. Kata Pak Awang, beliau baru keluar mengajar jam 10. Nah, karena pembicaraan kami ini tidak perlu formal makanya kuajak kamu ke Warung Pak Eko, To, sambil menunggu waktu bertemu dengan Pak Awang. Kamu belum sarapan kan?” jawab Farhan, diiringi seringai Anto yang seakan berujar di hatinya betapa perhatian Farhan dengannya.

Jam 10 tepat Farhan bertemu dengan Pak Awang Mangkunegara, Dosen FISIP Unikarta di ruang kerja dosen. Lumayan banyak hal yang mereka perbincangkan tetapi hanya ada satu fokus yang menurut Farhan penting, yaitu aksi refresif aparat saat mengendalikan kericuhan ketika longmarchyang ia komandoi. Menurut Farhan tindakan refresif aparat itu diluar kendali bahkan dapat dikatakan brutal. Dampak fatalnya turut ia rasakan ketika tubuhnya remuk dihantam baton stick aparat kala itu. Mendengar keluhan Farhan Pak Awang pun menyelanya dengan pertanyaan.

“Kamu pernah mendengar istilah Paralaks, Farhan?” tanya Pak Awang Mangkunegara.

“Ya. Saya pernah mendengar istilah itu, Pak. Jika tidak salah, paralaks itu digunakan untuk menyatakan kedudukan sudut dari dua titik diam, bersifat relatif satu sama lainnya, sebagaimana suatu objek yang diamati oleh seorang pengamat yang bergerak” Farhan menjelaskan pemahamnnya.

“Iya, benar. Kurang lebih seperti itu. Tetapi sangat tepat jika dijelaskan bahwa istilah paralaks ini diartikan sebagai suatu istilah yang kerap digunakan dalam ilmu astronomi untuk menjelaskan suatu fenomena mengenai jarak benda-benda langit. Sebenarnya istilah Paralaks itu sendiri memiliki makna mengenai sudut pandang suatu subjek yang bergerak terhadap suatu obyek yang diam, namun pandangan sedemikian rupa mengalami pergeseran atau bahkan mengalami perubahan, tergantung kepada posisi maupun sudut pandang subjek yang bergerak tersebut, sehingga situasi seperti ini dapat melahirkan sudut pandang yang relatif.” Pak Mangkunegara berupaya memberikan penjelasannya terkait istilah “Paralaks” yang ia pertanyakan di awal tadi kepada Farhan.

“Dalam kaitannya dengan gejala sikap sosial di masyarakat, istilah paralaks ini dianggap relevan dengan posisi, sudut pandang maupun pemaknaan secara epistemologis terhadap gejala terjadinya proses perubahan di masyarakat, dan disebut-sebut menjadi model kritik yang bergeser dari mainstream, atau yang lazimnya, sehingga situasi ini dapat bermakna ekstrem” kata Pak Awang Mangkunegara lagi.

Pak Awang menjelaskan lagi “Saya menduga situasi yang kamu hadapi saat itu bersama teman-teman aksimu adalah situasi konflik yang muncul diakibatkan sudut pandang yang bersifat paralaks dalam memaknai gejala perubahan yang nampaknya ekstrem di tengah-tengah masyarakat kita, semisal demo anarkis yang dianggap melanggar etika demokrasi” jelasnya kepada Farhan.

Farhan yang sedari tadi menyimak penjelasan Pak Awang mencoba memahami maksud yang terkandung dalam penjelasan Pak Awang tadi. Kemudian, perbincangan pun berlanjut. Hingga waktu bergerak siang brulah keduanya mengakhir perbincangan itu, dengan kesimpulan dibenak Farhan bahwa pergerakan yang ia lakukan bersama teman-temannya dua minggu yang lalu adalah dampak dari situasi paralaks, yang jika dikaitkan dengan realitas sosial dinyatakan sebagai paralaksitas.

*****

Dua minggu sebelumnya di ruas jalan Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Teriknya sinar mentari yang menyengat permukaan kulit tak menggoyahkan semangat mahasiswa dan berbagai elementasi yang bergabung di dalamnya untuk berarak-arak menapaki setiap jengkal dari ruas jalan ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara. Langkah mereka laksana menabuh genderang, bergemuruh, menggetarkan semangat setiap orang yang memperhatikannya. Sekitar 700-an orang peserta longmarch bergerak antusias meski peluh telah mengucur dari pori-pori kulit. Warna Ungu mendominasi pakaian peserta longmarch hari itu. Sesekali terdengar yel-yel mahasiswa ditengah orasi yang mengumandang.

“Kita semua hidup di alam demokrasi. Kita semua lahir dari rahim bangsa yang sama. Kita semua berjuang dari hasil perjuangan pendahulu kita. Mereka bersimbah darah dan meregang nyawa untuk kehidupan yang kita rasakan hari ini, yaitu perjuangan untuk meraih kemerdekaan!.” Begitu orasi seorang mahasiswa melalui corong loadspeaker-nya.

“Kemerdekaan bangsa ini dulu ditebus dengan kucuran darah para pejuang. Kemerdekaan bangsa ini pun dulu diraih melalui pengorbanan rakyat jelata yang bahu-membahu, yang merasa ditindas, dilecehkan, dan hak-hak mereka dirampas oleh keserakahan kaum penjajah. Tetapi, hari ini, ketika kita telah menikmati indahnya kemerdekaan yang telah ditebus dengan kucuran darah dan diraih dengan pengorbanan, ternyata kita kembali dijajah oleh bangsa kita sendiri. Oleh nafsu serakah anak bangsa yang berdiri di atas singgasana kekuasaan. Oleh mereka yang telah menutup mata, menyumbat telinga dan membalut hati nurani dengan ketamakan. Dan kemerdekaan kita telah tergadaikan oleh sikap pasrah kita sendiri yang hanya menerima, dan cenderung bersimpuh di bawah telapak kekuasaan” teriakan salah seorang orator yang terdengar geram.

Orator lainnya pun menyahut dengan teriakannya “Pernahkan kita merenung, menatap sepintas ke masa depan, dimana nasib kemerdekaan jiwa-jiwa kita dipertaruhkan?. Tidak mampukah kita berpandangan bahwa indahnya kehidupan terletak pada perasaan merdeka. Merdeka dari tirani kekuasaan. Merdeka dari pemaksaan kehendak atas nama pribadi dan golongan. Dan merdeka dari keserakahan anak bangsa yang terbuai oleh gelimang harta dan keagungan tahta”.

“Wahai jiwa-jiwa yang nasib kemerdekaannya dipertaruhkan. Marilah bergerak bersama kami dalam sebuah aksi perjuangan. Perlawanan yang sigap terhadap proses pembodohan dari para pemangku kekuasaan, yang telah menutup mata hati dan menyumbat telinga nurani. Teguhkan sikap, bulatkan tekad. Perkokoh barisan guna menyongsong masa depan yang lebih baik. Karena hari ini, nasib kemerdekaan jiwa kita semua dipertaruhkan” si orator menutup pembicaraannya.

Di saat orasi berlangsung tiga kompi pasukan pengamanan gabungan dari aparat Polri dan Satpol PP beralat pengamanan lengkap menghampiri kumpulan peserta longmarch siang itu. Dengan sigap mereka membentuk formasi melingkar, mengelilingi kumpulan mahasiswa yang tengah melakukan orasi. Sekelompok orang dari peserta longmarch nampaknya terpengaruh dengan gelagar aparat gabungan saat itu. Mereka mencaci, memaki, bahkan melemparkan benda apa saja ke arah pasukan pengamanan itu. Merasa disulut amarahnya, maka satu dari tiga kompi pasukan gabungan itu pun menunjukkan sikap protektif mereka. Mungkin pasukan pengamanan sudah melihat gelagat anarkis dari peserta aksi siang itu.

Pihak pengamananpun tersulut amarah. Merekapun bertindak refresif dengan dalih pengamanan kekacauan. Mereka memukul, menjambak, menendang dan berupaya sekuat tenaga untuk membubarkan aksi yang digelar pada hari itu. Seketika itu juga terjadi keributan antara peserta dengan para anggota pengamanan. Baku hantam tidak terelakkan. Banyak di antara para mahasiswa yang akhirnya berlari menghindari amukan membabi buta para anggota keamanan. Bahkan, di antara mereka ada yang tersungkur ke tanah dengan wajah lebam terkena pukulan, mengucurkan darah dari kepala, kening dan pipinya. Dia lah Farhan Koordinator Lapangan aksi siang itu, jatuh tak sadarkan diri. Siang itu aksi mahasiswa dan elementasi masyarakat dapat dibubarkan oleh aparat keamanan. sayangnya, hanya karena perbedaan pemahaman dan sudut pandang di kedua belah kelompok berbeda kepentingan, terjadi insiden yang tak diharapkan. Inilah paralaksitas, realitas kehidupan dalam masyarakat yang berbeda sudut pandang, pemehaman dan kepentingan.

Medio Maret 2016

Tenggarong, Kutai Kartanegara


*Mubarak adalah Dosen FAI Unikarta. Menulis cerpen baginya adalah selingan disela kesibukan mengajarnya. Cerpen di atas adalah cerita fiktif, bukan menggambarkan situasi nyata di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Perpsektif Alquran terhadap Kepengawasan Pendidikan Islam

Add Comment
Ilustrasi Rapat Pengawas Sekolah
Pendahuluan
Dalam dunia pendidikan istilah “pengawasan” lebih cenderung dikonotasikan dengan kegiatan supervisi, yakni kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh seorang pengawas (supervisor) guna membantu seorang guru dalam memberikan arahan pada pelaksanaan kegiatan pendidikan, yakni dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Tetapi dalam makalah ini maksud dari tema makalah mengenai istilah “pengawasan” tidak cenderung menggambarkan pemahaman terhadap kegiatan supervisi tersebut. Melainkan, berdasarkan konteks manajemen. Istilah “pengawasan” dalam hal ini cenderung mengarah kepada peran seorang manajer dalam kegiatan manajemen, atau yang dikenal dengan istilah controlling

Dalam konteks manajemen, kegiatan pengawasan dilakukan oleh seorang manajer dalam rangka mengendalikan perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan (directing) dan pengawasan (controlling) yang telah diformat dalam suatu program. Dari sini nantinya akan ditindaklanjuti dengan kegiatan penilaian dan pemantauan program, serta perumusan langkah pencapaian tujuan yang akan dicapai. Sehubungan dengan uraian di atas serta dikaitkan dengan tema makalah ini, maka pada halaman berikutnya dari makalah ini akan diulas mengenai bagaimanakah model pengawasan yang islami serta ideal diterapkan pada lembaga-lembaga pendidikan Islam. Namun, untuk lebih jelasnya perlu diketahui terlebih dahulu arti, tujuan, serta fungsi pengawasan sebagaimana yang akan penulis paparkan di bawah ini.

Pengertian, Tujuan dan Fungsi Pengawasan
Pengertian “pengawasan” menurut LANRI, sebagai mana dikutip oleh Husaini Usman (2006:401) ialah suatu kegiatan untuk memperoleh kepastian apakah pelaksanaan pekerjaan/kegiatan telah dilakukan sesuai dengan rencana semula. Kegiatan pengawasan pada dasarnya membandingkan kondisi yang ada dengan yang seharusnya terjadi. Sedangkan tujuan pengawasan (Husaini Usman, 2006:400-401) adalah :
  • menghentikan atau meniadakan kesalahan, penyimpangan, penyelewengan, pemborosan, hambatan, dan ketidakadilan;
  • mencegah terulangnya kembali kesalahan, penyimpangan, penyelewengan, pemborosan, hambatan, dan ketidakadilan;
  • mendapatkan cara-cara yang lebih baik atau membina yang telah baik;
  • menciptakan suasana keterbukaan, kejujuran, partisipasi, dan akuntabilitas organisasi;
  • meningkatkan kelancaran operasi organisasi;
  • meningkatkan kinerja organisasi;
  • memberikan opini atas kinerja organisasi;
  • mengarahkan manajemen untuk melakukan koreksi atas masalah-masalah pencapaian kinerja yang ada;
  • menciptakan terwujudnya pemerintahan yang bersih
Sedangkan fungsi pengawasan sebagaimana dikemukakan oleh dua orang pakar pendidikan, sebagai berikut. Oteng Sutisna (1983:203) mengawasi ialah “proses dengan ...melihat apakah apa yang terjadi itu sesuai dengan apa yang seharusnya terjadi, jika tidak maka penyesuaian yang perlu dibuatnya”. Sedangkan Hadari Nawawi (1983:43) menegaskan bahwa “pengawasan ...berarti kegiatan mengukur tingkat efektifitas kerja personal dan tingkat efesiensi penggunaan metode dan alat tertentu dalam usaha mencapai tujuan”. Dengan demikian maka fungsi pengawasan ialah untuk mengetahui realisasi perilaku personel dalam organisasi, khususnya pada wilayah pendidikan akan diketahui melalui pengawasan apakah tingkat pencapaian tujuan pendidikan sesuai dengan yang dikehendaki?, apakah perlu dilakukan perbaikan?, dan lain sebagainya. 

Prinsip-prinsip Pengawasan
Dalam aktivitas pengawasan sebagai salah satu komponen manajemen, terdapat prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan. Menurut Oteng Sutisna (1983:203) bahwa tindakan pengawasan terdiri dari tiga langkah universal yaitu: pertama, mengukur perbuatan; kedua, membandingkan perbuatan dengan standar yang ditetapkan dan menetapkan perbedaan-perbedaan jika ada; dan ketiga, memperbaiki penyimpangan dengan tindakan pembetulan. Jadi, dengan demikian diketahui bahwa :
  • strategi menentukan keberhasilan dengan mengukur perbuatan;
  • membandingkan perbuatan dengan standar yang ditetapkan dan menetapkan perbedaan-perbedaan jika ada yang menjadi umpan balik sebagai bahan revisi dalam mencapai tujuan; 
  • responsif terhadap perubahan­-perubahan kondisi dan lingkungan;
  • cocok dengan organisasi pendidikan dengan memperhatikan hakikat manusia dalam mengontrol para personel pendidikan; dan
  • memperbaiki penyimpangan dengan tindakan pembetulan

Model Pengawasan Pendidikan yang Islami
Di bawah ini penulis akan memaparkan beberapa model pengawasan pendidikan yang islami, yang merupakan hasil dari adaptasi pemikiran penulis terhadap beberapa literatur yang menjadi bahan kepustakaan penulis dalam penulisan makalah ini.

1. Pengawasan Melekat
Yang dimaksud dengan pengawasan melekat ialah serangkaian kegiatan yang bersifat sebagai pengendalian yang terus-menerus, dilakukan langsung terhadap bawahannya secara preventif dan represif agar pelaksanaan tugas bawahan dapat berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan rencana kegiatan. Pelaku pengawasan dalam hal ini adalah atasan yang dianggap memiliki kekuasaan (power) dan dapat bertindak bebas dari konflik kepentingan (Husaini Usman, 2006:403). Dalam konteks pendidikan Islam, pengawasan seperti ini dapat dilihat gambarannya pada firman Allah berikut ini: "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung". (Q.S. Ali Imran/3:104)

2. Pengawasan Fungsional
Istilah pengawasan fungsional berarti setiap usaha pengawasan yang dilakukan untuk melakukan audit dan pemantauan secara bebas terhadap obyek yang diawasinya (Husaini Usman, 2006:404). Dalam organisasi besar pengawasan ini sangat berperan penting untuk membantu manajemen puncak melakukan pengendalian organisasi dalam mencapai tujuannya. Pengawasan fungsional ini dilakukan manajemen puncak ataupun satuan pengawas internal dengan dibantu teknologi informasi yang canggih sebagai kegiatan pemantauan. Jadi, fungsi pemantauan ini tidak dapat dilakukan oleh auditor eksternal dan hanya dapat dilakukan oleh manajemen atau aparat internal yang berwenang. Pengawasan fungsional ini terdiri atas pengawasan internal dan eksternal.

a. Pengawasan Internal
Pengawasan internal ialah suatu penilaian yang objektif dan sistematis oleh pengawas internal atas pelaksanaan dan pengendalian organisasi. Pengawasan internal menekankan pada pemberian bantuan kepada manajemen dalam mengidentifikasi sekaligus merekomendasi masalah inefisiensi maupun potensi kegagalan sistem dan program. Ketiadaan aparat ini akan menghambat pclaksanaan fungsi-fungsi organisasi yang akan membawa dampak buruk pada kinerja organisasi.

Dalam Islam terdapat konsep pengawasan internal, berupa tanggungjawab individu, amanah, dan keadilan, sebagaimana tertuang pada ayat berikut : "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat". (Q.S. An Nisa/4:58)

Menunaikan amanah merupakan kewajiban setiap individu Muslim, ia harus berhati-hati dan bertakwa dalam pekerjaannya, dan merasa bahwa Allah senantiasa mengawasi segala aktivitasnya. Dalam konteks manajemen pendidikan, konsep ayat di atas dapat disebut dengan Pengawasan Internal (built in controll) (Ahmad Ibrahim Abu Sinn, 2006:180). Berkenaan dengan hal tersebut, Rasulullah Saw. bersabda: "Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat­-Nya, jika tidah mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihat engkau" 

Pengawasan internal yang melekat dalam setiap pribadi Muslim akan menjauhkannya dari bentuk penyimpangan, dan menuntunnya untuk berlaku konsisten dalam menjalankan amanah yang diembankan kepadanya. Dalam aktivitas pendidikan, pengawasan secara internal ini dilakukan sebagai upaya untuk mengawasi kegiatan pendidikan yang diselenggarakan oleh setiap individu pelaksana kegiatan pendidikan, apakah itu guru ataupun karyawan. Manfaat pengawasan internal (Husaini Usman, 2006:404) antara lain:
  • menjembatani hubungan pimpinan tertinggi dengan para manajer dan staf dalam rangka memperkecil ketimpangan informasi;
  • mendapatkan informasi keuangan dan penggunaan yang tepat dan dapat dipercaya; 
  • menghindari atau mengurangi risiko organisasi; 
  • memenuhi standar yang memuaskan; 
  • mengetahui penerimaan/ ketaatan terhadap kebijakan dan prosedur internal; 
  • mengetahui efisiensi penggunaan sumber daya organisasi atau kepastian terwujudnyapenghematan; 
  • efektivitas pencapaian organisasi.
b. Pengawasan Eksternal
Manfaat pengawasan eksternal adalah untuk meningkatkan kredibilitas keberhasilan dan kemajuan organisasi. Pelaksana pengawasan eksternal dilakukan dengan prinsip kemitraan (partnership) antara pengawas dengan yang diawasi(Husaini Usman, 2006:404-405).

Penutup
Kesimpulan dari uraian di atas dapat diintisarikan sebagai berikut :
  1. Bahwa dalam dunia pendidikan aktivitas pengawasan (controlling) dilakukan oleh seorang manajer dalam kegiatan manajemen. 
  2. Kegiatan pengawasan dilakukan oleh seorang manajer dalam rangka mengendalikan perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan (directing) dan pengawasan (controlling) yang telah diformat dalam suatu program. 
  3. Beberapa model pengawasan pendidikan yang islami, adalah: (a) pengawasan melekat, yakni : serangkaian kegiatan yang bersifat sebagai pengendalian yang terus-menerus, dilakukan langsung terhadap bawahannya secara preventif dan represif agar pelaksanaan tugas bawahan dapat berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan rencana kegiatan, (b) pengawasan fungsional berarti setiap usaha pengawasan yang dilakukan untuk melakukan audit dan pemantauan secara bebas terhadap obyek yang diawasinya, meliputi pengawasan internal dan eksternal.
Namun demikian, seluruh konsep tersebut di atas tidak dapat dikatakan sebagai konsep yang islami jika tidak mengacu kepada Alquran dan sunnah Rasulullah saw. Sebab, acuan dari ilmu pengetahuan keislaman berasal dari Alquran dan sunnah.

Daftar Pustaka

Ahmad Ibrahim Abu Sinn. 2006. Manajemen Syariah Sebuah Kajian Historis dan Kontemporer. Jakarta; Rajagrafindo.

Hadari Nawawi. 1983. Administrasi Pendidikan. Jakarta; Gunung Agung.

Husaini Usman. 2006. Manajemen: Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan. Jakarta; Bumi Aksara.

Oteng Sutisna. 1983. Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis Untuk Praktek Profesional. Bandung; Angkasa.




DPRD Kota Banjarmasin: Mengatur Perda, Menata Kota

Add Comment
Kunjungan ke DPRD Kota Banjarmasin
Kota Banjarmasin adalah salah satu wilayah perkotaan di Pulau Kalimantan yang sangat pesat perkembangannya. Berkunjung ke Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, bagi saya bukanlah sesuatu yang istimewa. Di Kota Seribu Sungai ini saya pernah tinggal untuk waktu yang lama karena memang keluarga kami aslinya “Urang Hulu Sungai” Kalimantan Selatan –Ayah saya aslinya dari Desa Pihaung, Kecamatan Haur Gading, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) sedangkan Ibu saya aslinya dari Desa Telaga Langsat, Kecamatan Telaga Langsat, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSU)- dan di Kota Banjarmasin ini keluarga kami pernah menetap untuk waktu yang lama –sedikit menceritakan bahwa dulunya kami sekeluarga pernah tinggal di Gang Veteran Km 1 (atau Pal Satu, sebutan Urang Banjar) Kota Banjarmasin. Bahkan, hingga saat ini masih ada keluarga dan sanak saudara yang menetap di kota ini.

Di postingan ini saya tidak ingin mengulas panjang lebar kenangan saya dengan Kota Banjarmasin –meskipun, banyak yang bisa saya tuliskan tentang kota tercinta ini, tapi nantinya ada postingan khusus untuk mengurai tulisan tentang Kota Banjarmasin ini. Saya ingin menceritakan hasil perjalanan kerja dalam rangka mengawal tugas negara rekan-rekan saya, yang saya dampingi. Catatan kerja ketika berkunjung ke Sekretariat DPRD Kota Banjarmasin. Kunjungan kali ini mengangkat tema tentang Kebijakan Hukum dan Pembentukan Peraturan Daerah di DPRD Kota Banjarmasin.

Sekretariat DPRD Kota Banjarmasin ini terletak di kawasan Jalan Lambung Mangkurat, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin. Kantor sekretariat ini adalah kantor lama yang menurut penilaian saya jika diukur dengan perkembangan Kota Banjarmasin yang sangat pesat, sesungguhnya tidak berimbang. Bagi saya, yang memang asli Urang Banua, menganggap penting agar Kantor DPRD Kota Banjarmasin ini, yang darinya dibicarakan berbagai kepentingan pemerintahan dan rakyat, sangat perlu untuk ditinjau aspek representasi, kapasitas, dan estetika kantornya, yang jika disandingkan dengan intensitas serta beban kerja anggota DPRD Kota Banjarmasin yang terus meningkat seiring dengan semakin kompleksnya problematika sosial masyarakat urban di Kota Banjarmasin, sungguh sangat perlu untuk dipertimbangkan (pembangunan kantor baru). Tapi... biarlah “harapan” ini menjadi pemikiran Pemerintah Kota Banjarmasin yang saat ini memerintah.

Terkait tema kunjungan kerja kami ke Sekretariat DPRD Kota Banjarmasin, landasannya ialah Undang-Undang No. 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, khususnya pada Pasal 154 ayat (1) huruf a yang menyatakan bahwa DPRD kabupaten/kota mempunyai wewenang membentuk Perda kabupaten/kota bersama bupati/walikota. Selain itu, bahwa peran DPRD kabupaten/kota ini dalam melaksanakan kebijakan hukum dan pembentukan peraturan daerah harus memandang parameter hak asasi manusia (HAM) dalam pembentukan produk hukum daerah. Hal ini sebagaimana ketentuan Peraturan Bersama Menkumham No. 20 Tahun 2012 dan Mendagri No. 77 Tahun 2012 tentang Parameter HAM dalam Pembentukan Produk Hukum Daerah, serta Permendagri No. 1 Tahun 2014 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah. Sepanjang yang kami ketahui dari internet dan berdasarkan hasil diskusi ringan kami bahwa DPRD Kota Banjarmasin adalah salah satu daerah yang pernah menerbitkan Perda tentang Pembentukan Perda yaitu Perda Kota Banjarmasin No. 19 tahun 2012 tentang Pembentukan Peraturan Daerah. Hal inilah yang turut melandasi kunjungan kami ke Sekretariat DPRD Kota Banjarmasin ini.

Kedatangan rombongan kami ke Sekretariat DPRD Kota Banjarmasin disambut dengan hangat dan secara langsung oleh Ketua DPRD Kota Banjarmasin yaitu Bapak H. Iwan Rusmali, S.H., M.M., serta seorang anggota Komisi I DPRD Kota Banjarmasin yaitu Bapak H. M. Yamin, HR., Far. Apt. M.M. menurut keterangan Ketua DPRD Kota Banjarmasin, yang cukup senior ini di kancah perpolitikan lokal di Kota Banjarmasin maupun Provinsi kalimantan Selatan, bahwa DPRD Kota Banjarmasin dalam satu tahun bisa membuat Perda sekitar 35 buah, yang dibagi: Perda usulan eksekutif sebanyak 12 buah dan sisanya sebanyak 23 buah berasal dari inisiatif pihak legislatif. Dalam pelaksanaan wewenang pembentukan Perda ini DPRD Kota Banjarmasin melalui Badan Legislasi (Banleg) -atau istilah saat ini Badan Pembentukan Peraturan Daerah (BPPD)-, pada tahapan pertama melakukan revisi dan melengkapi data-data yang dibutuhkan dari suatu usulan Raperda. Mekanisme dan kebijakan hukum ini merupakan tugas Komisi I DPRD Kota Banjarmasin, dimana Komisi I DPRD Kota Banjarmasin memanggil Banleg DPRD Kota Banjarmasin untuk berkomunikasi dan hasil komunikasi ini nantinya yang akan dikomunikasikan dengan pimpinan DPRD Kota Banjarmasin. Komunikasi antara Komisi I, Banleg dan Pimpinan DPRD Kota Banjarmasin ini dilakukan untuk singkronisasi dengan perda-perda yang telah ada sebelumnya. Hasil komunikasi inilah yang kemudian menjadi dasar Banleg untuk melakukan rapat singkronisasi dengan pihak eksekutif.

DPRD Kota Banjarmasin dalam rangka meningkatkan kualitas suatu Raperda yang diusulkan juga melakukan kerjasama dengan pihak akademisi yaitu Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), khususnya pada Fakultas Hukum serta di-MoU-kan. Para akademisi yang terlibat di Fakultas Hukum Unlam inilah yang kemudian melakukan dialog publik dengan masyarakat untuk mengetahui aspirasi masyarakat dari sebuah raperda, apakah memiliki kaitan erat dengan kebutuhan dan kepentingan masyarakat terhadap terbitnya suatu perda atau tidak. Hasil dialog publik ini pulalah yang menjadi dasar melakukan pendalaman dan relevansinya dengan kebutuhan masyarakat sehingga isi reperda dapat direvisi kembali dan disingkronisasi kembali.

Di internal DPRD Kota Banjarmasin dilakukan rapat paripurna secara intern untuk mendalami isi Raperda inisiatif yang diusulkan oleh DPRD sebelum dibawa ke dalam Rapat Paripurna secara umum bersama pihak eksekutif, sehingga setiap tahunnya ada sekitar 35 atau 30 perda yang dihasilkan, dimana sejumlah 23 Raperda telah dilakukan Rapat Paripurna Internal sebelumnya di DPRD kota Banjarmasin dan pada Rapat Paripurna secara umum ditambahkan dengan 12 buah Raperda lainnya sehingga genap menjadi 35 buah raperda yang akan menjadi perda. Secara kuantitas, memang sebanyak 35 buah Perda dapat dihasilkan oleh DPRD Kota Banjarmasin dan hampir setiap tahun ditetapkan sejumlah itu, tetapi bukan berarti sejumlah perda yang ditetapkan itu semuanya secara kualitas dinyatakan produktif. Setiap perda yang dihasilkan ada saja yang tidak produktif tetapi bisa dilakukan revisi. Oleh karenanya maka Program Legislasi Daerah (Prolegda) –atau, istilah sekarang dengan sebutan Program Peraturan Daerah (Properda)- yang kami rencanakan harus disepakati bersama antara eksekutif dan legislatif dalam bentuk MoU sehingga dapat dituangkan dalam anggaran kinerja DPRD Kota Banjarmasin pada tahun anggaran yang akan berjalan.

Sebagai contoh penjelasan diatas DPRD Kota Banjarmasin pernah membuat MoU dengan Pemerintah Kota Banjarmasin yang dituangkan dalam Berita Acara Nomor 180/22/KUM/2014 dan Nomor 08 Tahun 2014 tentang Program Legislasi daerah Kota Banjarmasin Tahun 2015. Dalam Berita Acara ini disepakati beberapa poin, antara lain: (1) Membentuk dan membahas serta menyetujui Program Legislasi Daerah Kota Banjarmasin Tahun 2015 yang sesuai dengan aspek kewenangan, aspek keterbukaan dan aspek pengawasan; (2) Dalam pembentukan Program Legislasi Daerah harus berdasarkan kepada Pancasila dan UUD 1945, yang tidak bertentangan dengan kepentingan umum serta peraturan perundang-undangan lainnya yang lebih tinggi; (3) Dalam membentuk Program Legislasi Daerah pada Tahun 2015 berjumlah sebanyak 31 (tiga puluh satu) buah yang terlampir dari nota kesepakatan ini dan apabila terjadi pergantian dari lampiran kegiatan dari Program Legislasi tersebut akan dibicarakan secara bersama-sama sesuai kebutuhan daerah; (4) Dalam pembentukan Program Legislasi Daerah dianggarkan dalam tahun anggaran 2015 yang sesuai dengan kemampuan keuangan daerah; serta (5) Hal-hal yang berkenaan dengan teknis Pembuatan Peraturan Daerah yang tidak termasuk dalam kesepakatan ini akan dibicarakan bersama-sama secara musyawarah.

Sejumlah Raperda prioritas yang masuk dalam Prolegda Tahun 2015 di DPRD Kota Banjarmasin, antara lain: (a) Raperda Inisiatif DPRD: (1) Pencegahan dan Penanggulangan Terhadap Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika, Psikotropika, dan Zat Aditif lainnya; (2) Pelayanan Bidang Pertanian, Peternakan, Kesehatan Hewan dan Kesehatan Pekerja Peternak; (3) Revisi tentang Perda Miras No. 17/2012; (4) Revisi tentang Perda Sarang Burung Walet No. 6/2011; (5) Revisi Perda No. 10/2011 tentang Pajak Hiburan dan Rekreasi; (6) Revisi Perda No. 19/2011 tentang Pengelolaan Izin Hiburan dan Rekreasi; (7) Raperda Transportasi Keberangkatan Jemaah Haji; (8) Raperda Pengelolaan Usaha Rumah Makan; (9) Raperda Perizinan Usaha Perikanan; (10) Raperda Pemanfaatan Pelabuhan Lokal; (11) Revisi Perda No. 20/2013 tentang Ketertiban Umum; (12) Revisi Perda tentang Pengelolaan Parkir No. 8/2011; (13) Raperda Pegarusutamaan Gender; (14) Raperda tentang Pengaturan dan Izin Sanggar Senam dan Fitness; (15) Raperda Penyerahan Prasarana, Sarana dan Utilitas pada Kawasan Industri, Perdagangan, Perumahan dan Pemukiman; (16) Raperda tentang Pekerjaan Multiyears (Tahun Jamak); sedangkan (b) Raperda dari Kepala Daerah: (17) Revisi Perda No. 6/2008 tentang Pengelolaan Pasar Dalam Daerah Kota Banjarmasin; (18) Raperda tentang Kota Layak Anak; (19) Raperda Perusahaan Daerah Pasar; (20) Revisi Perda No. 20/2012 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat perbelanjaan dan Toko Modern; (21) Raperda Perlindungan Pangan; (22) Raperda Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B); (23) Raperda Penyertaan Modal Daerah Kepada pihak Ketiga; (24) Raperda Kepariwisataan; (25) Raperda Rencana Detail Tata Ruang (RDTR); (26) Raperda penyertaan Modal pada PDAM; (27) Raperda Penyertaan Modal pada PD PAL; (28) Revisi Perda No. 13/2013 tentang Retribusi Pelayan Pasar; (29) Raperda Pertanggungjawaban APBD Tahun Anggaran 2014; (30) Raperda APBD Perubahan Tahun Anggaran 2015; dan (31) Raperda APBD Tahun Anggaran 2016. Khusus pada Tahun Anggaran 2016, DPRD dan Pemerintah Kota Banjarmasin mencanangkan agenda Prolegda Tahun 2016 sebanyak 30 Raperda yang dibagi 15 Raperda inisiatif DPRD dan 15 Raperda usulan Eksekutif.

Ketua DPRD Kota Banjarmasin juga mengingatkan kami agar meminta penataran dari KPK untuk menghasilkan program kerja setiap tahun yang tidak melanggar hukum, karena DPRD Kota Banjarmasin pun telah melakukan langkah ini. Sehingga, ketika BPK mengontrol semuanya telah sesuai dengan apa yang menjadi arahan KPK. Ketua DPRD Kota Banjarmasin juga menjelaskan bahwa mereka mengatur keberangkatan kerja anggota DPRD Kota Banjarmasin secara terprogram sesuai dengan apa yang telah disepakati melalui Sidang Paripurna DPRD Kota Banjarmasin. Bahkan secara umum, terkait keberangkatan Komisi/Pansus, telah diprogramkan secara proyektif untuk masa 5 tahun ke depan. Sehingga, pengaturan siapa yang berangkat, dan ditugaskan untuk apa dapat terarah dalam program kerja. DPRD Kota Banjarmasin memiliki dokumentasi secara utuh terkait kebutuhan program kerja. Oleh karenanya, kata Ketua DPRD Kota Banjarmasin, semua anggota DPRD Kota Banjarmasin telah memiliki sertifikat dari KPK.

Kiranya apa yang tertuang dalam tulisan yang cukup panjang ini sudah secara jelas menggambarkan betapa DPRD Kota Banjarmasin telah berupaya memaksimalkan peran, fungsi dan wewenang yang dimiliki untuk sebesar-besar kepentingan masyarakatnya. Tetapi, ini hanya pendapat sepintas yang saya pahami ketika berkunjung ke Sekretariat DPRD kota Banjarmasin ini. Di luar yang tidak saya ketahui... masyarakat Kota Banjarmasin lah yang lebih memahaminya.

Kegiatan Kelas Sebagai Sistem Sosial: Refleksi Wawasan Sosiologi Pendidikan

Add Comment
Kartun Ilustrasi Kegiatan Kelas
Pendahuluan
Pendidikan dimanapun tidak akan pernah ber­diri secara terpisah dari kegiatan kelas yang memberikan kesempatan kepada seorang pendidik untuk memberikan pemahaman kepada peserta didiknya. Oleh karena itu wajarlah bila pelaksanaan pendidikan selalu menuntut sarana kelas sebagai tempat yang mampu menghubungkan antara guru dan siswa dalam sebuah proses interaksi.

Hubungan yang terjalin melalui kegiatan kelas mampu menempatkan seorang guru dan para murid dalam konteks dialogis, serta membangun persepsi secara horisontal, berupa hubungan emosional antar individu sebagai subjek yang sama, dan secara bersama-sama dalam mengamati objek pengetahuan. Sehingga, tanpa disadari, sesungguhnya aktivitas yang berlangsung tersebut merupakan kenyataan terhadap eksistensi sistem sosial dalam kegiatan pendidikan. Meskipun demikian, jangkauan sistem sosial tersebut sangatlah terbatas. Sebab yang nampak hanya berupa kompleksitas interaksi yang berlangsung melalui aktivitas pembelajaran kelas.

Sebagai upaya untuk memaparkan realitas tersebut, maka melalui makalah ini penulis berupaya untuk merunut pemahaman kita ke dalam sebuah perspektif tentang kegiatan kelas sebagai suatu sistem sosial, melalui penelusuran tentang pengertian kelas beserta ruang lingkup interaksi yang berlangsung di dalamnya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam wawasan sosiologi pendidikan.

Pengertian Kelas
Pengertian kelas menurut Oemar Hamalik adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama, yang mendapat pengajaran dari guru. Pengertian ini jelas meninjaunya dari segi anak didik, karena dalam pengertian tersebut ada frase “kelompok orang” (Oemar Hamalik, 1992:311). Pendapat ini sejalan dengan pendapat Suharsimi Arikunto yang juga mengemukakan pengertian kelas dari segi anak didik. Hanya pendapatnya lebih mendalam. Menurut Suharsimi Arikunto:

Di dalam didaktik terkandung suatu pengertian umum mengenai kelas, yaitu sekelompok siswa yang pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama. Dengan batasan pengertian seperti tersebut, maka ada tiga persyaratan untuk dapat terjadinya: Pertama, sekelompok anak, walaupun dalam waktu yang sama bersama-sama menerima pelajaran, tetapi jika bukan pelajaran yang sama dari guru yang sama, namanya bukan kelas; Kedua, sekelompok anak yang dalam waktu yang sama menerima pelajaran yang sama, tetapi dari guru yang berbeda, namanya juga bukan kelas; dan Ketiga, sekelompok anak yang sama, menerima pelajaran dari guru yang sama, tetapi jika pelajaran tersebut diberikan secara bergantian namanya juga bukan kelas. (Suharsimi Arikunto, 1988:17)

Suharsimi Arikunto menegaskan, bahwa kelas yang dimaksud di sini adalah kelas dengan sistem pengajaran klasikal dengan pengajaran secara tradisional. Artinya, kegiatan pengajaran dilaksanakan secara bersamaan dan menyeluruh serta serentak.

Lebih jauh mengenai pengertian kelas yang sealur dengan konsep judul makalah ini adalah sebagaimana disampaikan oleh Hadari Nawawi (Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, 2002:197-198), yang memandang kelas dari dua sudut, yaitu: (1) Kelas dalam arti sempit yakni, ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. Kelas dalam pengertian ini mengandung sifat statis karena sekadar menunjuk pengelompokan siswa menurut tingkat perkembangannya yang antara lain didasarkan pada batas umur kronologis masing-masing; serta, (2) Kelas dalam arti luas adalah, suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah, yang sebagai satu kesatuan diorganisasi menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan.

Dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa kelas tidak hanya berhubungan dengan definisi suatu tempat, melainkan dapat lebih global lagi, yakni menjadi suatu unit kerja dalam suatu organisasi sosial. Penempatan kelas dalam suatu struktur kerja seperti sekolah memberikan peluang pemanfaatan yang lebih besar cakupannya. Hal ini sebagaimana tergambar dalam kegiatan interaksi edukatif yang berlangsung dalam pendidikan formal. 

Kompleksitas Interaksi Sosial dalam Kegiatan Kelas sebagai Sistem Sosial
Dalam kegiatan yang berlangsung di dalam kelas, interaksi antara guru dengan para murid, dan antar sesama murid adalah bagian dari proses pembelajaran yang sangat kompleks. Mengenai hal ini, jika ingin mengetahui bagaimana interaksi tersebut dikatakan sangat kompleks, maka terlebih dahulu mesti diketahui pengertian dari interaksi sosial tersebut.

Pengertian interaksi sosial menurut beberapa pakar (Ary H. Gunawan, 2000:30-31) adalah: 
  1. Menurut Bonner, interaksi sosial ialah suatu hubungan antara dua orang atau lebih, sehingga kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain, dan sebaliknya. 
  2. Menurut Young, interaksi sosial ialah kontak timbal balik antara dua orang atau lebih.Menurut Psikologi Tingkah Laku (Behavioristic Psychology), interaksi sosial berisikan saling perangsangan dan pereaksian antara kedua belah pihak individu.

Berdasarkan pernyataan di atas, jelaslah bahwa interaksi sosial adalah polarisasi hubungan antar individu yang saling mempengaruhi. Dari interaksi sosial inilah kemudian terjadi interaksi personal sosial, yaitu interaksi dengan “orang” (person) dalam situasi (lingkungan) sosial, serta interaksi kultural, berupa hubungan seseorang dengan kebudayaan kelompoknya.

Mengenai hal tersebut terdapat pembagian dalam interaksi sosial. Pembagian interaksi sosial tersebut dapat disimak melalui pernyataan di bawah ini mengenai beberapa macam interaksi sosial (Ary H. Gunawan, 2000:32-33), yakni: Pertama, dilihat dari sudut subjeknya, ada tiga macam interaksi sosial, yaitu: Interaksi antar orang perorangan, Interaksi antar orang dengan kelompoknya, dan sebaliknya, Interaksi antar kelompok; Kedua, dilihat dari segi caranya, ada dua macam interaksi sosial, yaitu: Interaksi langsung (direct interaction), yaitu interaksi fisik, seperti berkelahi, hubungan seks/kelamin, dan sebagainya; serta Interaksi simbolik (symbolic interaction), dengan mempergunakan bahasa (lisan/tertulis) dan simbol­ simbol lain (isyarat), dan lain sebagainya; dan, Ketiga, menurut bentuknya, Selo Soemardjan membagi interaksi menjadi empat, yaitu: Kerjasama (cooperation), Persaingan (competition), Pertikaian (conflict), dan Akomodasi (accommodation), yakni bentuk penyelesaian dari pertikaian.

Kompleksitas interaksi sosial yang terjadi dalam kegiatan kelas antara guru dan siswa serta antar sesama siswa telah terpolarisasi sedemikian rupa dalam kegiatan didalam kelas. Hal ini merupakan gambaran dalam proses riil pembelajaran. Oleh karenanya , dalam interaksi edukatif yang terjalin tersebut guru merupakan komponen utama yang (semestinya) mampu mengarahkan berlangsungnya proses interaksi edukatif ke arah yang positif. Sebab, guru merupakan pengelola sekaligus pengatur jalannya interaksi pembelajaran tersebut.

Kita semua mengetahui, bahkan pernah merasakan, ketika proses pembelajaran tengah berlangsung, ada murid yang merasa terganggu saat mengikuti pelajaran di kelas karena ulah teman sekelasnya, atau ada pula yang merasa terganggu ketika salah seorang murid mengajak temannya berbicara, atau ada yang bertingkah usil dengan menyembunyikan alat tulis, atau kita sendiri selaku pendidik merasa dilecehkan oleh siswa ketika salah seorang di antaranya selalu mendominasi pembicaraan saat diskusi kelompok, mendebat kita selaku guru secara tidak wajar, dan sebagainya.

Tentu ada juga yang pernah merasa terganggu karena ruang kelas sangat panas dan pengap, penerangan kurang jelas, tempat duduk tidak nyaman, barang-­barang dalam kelas tidak teratur, dan sejenisnya. Demikian pula tentu ada yang pernah merasa kecewa, tersinggung, marah, malu, dan sebagai­nya, karena perlakuan tertentu dari guru meskipun sebenarnya apa yang diajarkan olen guru tersebut menarik untuk disimak.

Kondisi sebagaimana yang digambarkan di atas menunjukkan bahwa dalam kegiatan kelas semua orang berhu­bungan langsung dengan pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar. Dan secara kompleks, interaksi pembelajaran yang terjadi telah membentuk sistem sosial, baik disadari secara langsung, maupun tidak. Dalam situasi seperti ini terdapat seorang individu dalam kegiatan kelas yang dihormati, disegani, dipatuhi perkataannya, dan ada pula yang sebaliknya, diejek, dimarahi, dikucilkan,direndahkan kedudukannya di antara rekan-rekannya yang lain.

Kondisi tersebut pada akhirnya membentuk klasifikasi sosial dalam interaksi kelas, baik yang berpretensi material, seperi antara kaya dan miskin, atau immaterial, seperti terhormat, kurang terhormat dan tidak terhormat. Atau, yang bersifat formil, seperti pandai dan bodoh, yang bersifat informil, seperti cantik, tampan dan sebaliknya.

Kondisi seperti dipaparkan di atas membutuhkan penanganan dalam bentuk kerjasama (cooperation) dan akomodasi (accommodation), yakni bentuk penyelesaian dari pertentangan. Seorang guru diharuskan menjadi mediator pembelajaran kelas dengan sistem sosial yang telah terbentuk sedemikian rupa ke arah bentuk pembelajaran kelompok yang antara satu dengan lainnya dapat bekerjasama dengan baik serta saling memahami kedudukan atau posisi antar individu yang terdapat di dalam kelompok. Seorang guru, dalam kondisi seperti itu juga mesti mempersempit jarak perbedaan di atara individu satu dengan yang lainnya, menyamaratakan sikap dan perlakuan kepada seluruh personil kelompok, dan memberikan penghargaan yang tidak berlebihan atas prestasi yang dicapai oleh individu maupun kelompok.

Penutup
Kegiatan kelas sebagai sistem sosial secara regulator merefleksikan karakter pembelajaran yang banyak dipengaruhi oleh aturan main atau regulasi yang dianut dan diciptakan oleh guru. Hal tersebut merupakan kesepakatan (consensus) yang dibangun melalui tata tertib dan aturan kedisiplinan. Jika telah mencapai pada level ini, maka aktivitas pembelajaranpun akan mencakup suasana psikologis kelas yang nyaman, iklim pembelajaran yang kondusif (menarik), motivasi dan gairah belajar peserta didik yang tinggi.

Namun demikian, terdapat berbagai dialektika pengetahuan yang mesti dipahami oleh seorang pendidik jika ingin memformat aktivitas pembelajaran tersebut menjadi sistem interaksi kelas yang amat menyenangkan. Tidak hanya bagi siswa, melainkan juga bagi guru selaku pengelola penuh atas aktivitas yang berlangsung di dalam kelas. Hal inilah yang kemudian menjadi tolok ukur bagi aktivitas pengajaran yang diselenggarakan oleh guru ke depan.

Daftar Pustaka 
Ary H. Gunawan. 2000. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Oemar Hamalik. 1992. Psikologi Belajar Mengajar. Bandung: PT. Sinar Baru.
Suharsimi Arikunto. 1998. Pengelolaan Kelas dan Siswa: Sebuah Pendekatan Evaluatif. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Syaiful Bahri dan Aswan Zain Djamarah. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Catatan:
Ditulis oleh H. Mubarak, S.Pd.I., M.Pd.I. Makalah ini disajikan dalam diskusi ilmiah dosen FAI Unikarta.

Petaka Wicara Thony Saut Situmorang: Kegagalan Olahkata dan Unfair Statement

Add Comment
Ilustrasi Saut vs HMI
Mendekati akhir pekan ini (Kamis, 05/05/2016) Warga Himpunan -sebutan saya untuk mayoritas aktivis dan mantan aktivis serta pegiat organisasi HMI/Himpunan Mahasiswa Islam- dikejutkan dengan pernyataan salah seorang komisioner KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yaitu THONY SAUT SITUMORANG dalam program acara “Benang Merah” di stasiun televisi swasta nasional TVOne dengan tema “Harga Sebuah Perkara”. Didaulat untuk berbicara dalam program acara tersebut tentu menjadi nilai prestisius bagi Saut (untuk selanjutnya menyebut Thony Saut Situmorang) dalam kapasitasnya sebagai seorang pimpinan lembaga negara sekelas KPK. Sebab, selain momentum kelembagaan untuk mempersuasi -persuasi adalah komunikasi yang digunakan untuk mempengaruhi dan meyakinkan orang lain, yang mana melalui persuasi ini setiap individu mencoba berusaha mempengaruhi kepercayaan dan harapan orang lain, lihat: https://id.wikipedia.org/wiki/Persuasi- pesan ke tengah publik, berbicara sehubungan otoritas kerja kelembagaannya akan mengangkat lebih tinggi citra sang komisioner. Namun disayangkan kegagalan olahkata sang komisioner sedikit banyaknya berdampak terhadap persuasi pesan yang kontraproduktif di ruang publik. Rekaman video pernyataan Saut saat ini masih dapat disaksikan di Youtube https://www.youtube.com/watch?v=I9DLPO9c9ms dimana secara jelas ia mengatakan “Saya selalu bilang, kalau dia HMI, minimal dia ikut LK I. Iyakan, lulus itu. Anak-anak mahasiswa itu, pinter. Tapi begitu menjadi menjabat, ia menjadi jahat, curang, greedy...”.

Ada apa dengan Saut?. Pertanyaan inilah yang pertama kali terlintas dibenak saya ketika merespon informasi yang berkembang seputar kasus Saut versus HMI ini. Meskipun kini saya tidak aktif lagi bernaung dibawah bendera Hijau-Hitam akan tetapi memori perkaderan LK I (Basic Training) dan LK II (Intermediate Training) yang pernah saya ikuti di HMI sangat menolak dengan statmen Saut tersebut. Atau, secara Warga Himpunan, saya merasa terzholimi oleh olahkata Saut yang kurang tepat dalam membuat “contoh” tersebut. Meskipun saya mengakui banyak sekali para petinggi di negeri ini yang dilahirkan dari rahim perkaderan HMI, diantaranya ada yang bermasalah dengan perkara hukum, tetapi masih banyak juga kok orang-orang yang terlibat dalam sistem pemerintahan yang pernah dilahirkan dari perkaderan HMI, tetapi memberikan jasanya untuk kejayaan Negara Indonesia. Intinya, saya tidak dapat menerima contoh yang dibuat oleh Saut dengan mendiskreditkan HMI secara sepihak. Mengapa cuma HMI yang disebutnya sebagai contoh, sedangkan para pejabat yang berperkara dengan kasus korupsi bukan hanya dari HMI. Di sinilah menurut saya letak sensitifnya pernyataan Saut itu.

Kegagalan Olahkata
Saut telah gagal merangkai kata (olahkata) dengan baik. Demikian praduga saya ketika menyimak lemahnya persuasi yang dibuat oleh Saut tatkala mengurai pandangannya tentang buruknya sistem di negara ini sehingga orang-orang yang dipersiapkan dengan baikpun nyaris tak memiliki peluang untuk tetap menjadi baik ketika masuk ke dalam sistem.

Dalam ilmu komunikasi kefektifan komunikasi massa dapat diukur dari efek proporsional kognitif yang dibuat oleh seorang komunikator kepada audiens selaku komunikan (penerima pesan). Namun Saut telah gagal membuat efek proporsional kognitif itu, dimana informasi yang ia berikan tidak memberikan manfaat atau nilai informasi yang berguna bagi khalayak. Lebih tragis lagi, informasi yang dibuat oleh Saut lebih berdampak terhadap respons emosional karena pernyataannya yang terkesan generalisir, tendensius dan unfair (tidak adil).

Dengan menyebutkan HMI secara jelas sebagai contoh, Saut telah menggeneralisir bahwa setiap kader HMI, minimal yang dilahirkan dari perkaderan setingkat LK I (Basic Training), meskipun pintar-pintar, tetapi ketika masuk dalam sistem (menjadi pejabat) “pasti” akan menjadi jahat, curang, dan greedy (serakah). Pernyataan Saut ini menurut saya telah mengaburkan makna perkaderan yang pernah saya terima dulu ketika ikut dalam Training LK I dan LK II HMI, ketika MOT (Master of Training) secara ideal memaparkan orientasi training. Saut yang mungkin karena pemahamannya yang sempit, telah gagal memahami HMI beserta proses perkaderannya sehingga mengambil contoh atas kesalahan dari sedikit kader HMI yang berperkara dengan hukum.

Kegagalan olahkata Saut juga terasa dari nuansa tendensius yang dimunculkan sehingga dikhawatirkan akan menyulut wilayah SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan). Hal ini terkait HMI sebagai organisasi ekstra kemahasiswaan yang berbasis Islam. Banyak tokoh-tokoh Muslim dari kalangan Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang pernah lahir dari rahim perkaderan HMI. Ketika mereka ini sebagai alumni HMI juga digeneralisir dan secara tidak sengaja didiskreditkan oleh pernyataan Saut maka apakah ini bukan menyulut wilayah SARA namanya?.

Unfair Statement
Saut sangat tidak beretika sebagai Pimpinan KPK ketika mengambil contoh HMI sebagai landasan bicaranya tanpa disertai paparan data dan fakta. Keputusan KPK No. Kep-06/P.KPK/02/2004 tentang Kode Etik Pimpinan KPK pada Pasal 4 huruf f secara jelas mengharuskan seorang Pimpinan KPK memiliki nilai-nilai dasar pribadi (basic individual values) yang unggul, selalu meningkatkan pengetahuan dan kapasitas pribadinya, yang dijelaskan dalam Pasal 5 dilaksankan dalam bentuk sikap, tindakan, prilaku dan ucapan pimpinan KPK, yang jika dilanggar harus siap menerima sanksi tegas. Landasan bicara dengan data dan fakta sangat penting bagi komunikasi pimpinan KPK agar tidak “asbun” atau asal bunyi.

Kalau saja, saat statmen Saut di TVOne kala itu juga menyertakan data, minimal khalayak mengetahui berapa prosentase kader HMI yang bermasalah dengan perkara korupsi jika dibandingkan dengan prosentase kader organisasi lain yang sejenis yang berperkara juga dengan kasus korupsi. Lalu, kalau boleh juga berbanding lurus dengan informasi terkait prosentase kader HMI dan kader organisasi lainnya yang tidak berperkara dengan kasus korupsi tetapi turut membantu menata sistem, tentu akan sangat fair.

Petaka wicara Saut jangan dilihat karena ketidaksengajaan. Sebagai Pimpinan KPK yang dalam kode etiknya dibekali peringatan untuk berkewajiban menggunakan sumber daya publik secara efektif, efesien dan tepat, serta menghilangkan sifat arogansi individu dan sektoral maka polemik pernyataan Saut telah “mengebiri” kode etik kelembagaannya sendiri. Lalu pertanyaannya, masih pantaskan Saut menduduki lembaga negara yang berprinsip zero tolerance atau tanpa toleransi sedikitpun atas penyimpangan penerapan kode etik bagi pimpinan KPK?.

Menyoal Pribadi Saut
Mengulas sedikit saja masalah pribadi Saut di media massa telah banyak kontroversi yang memberitakan sisi janggal pribadinya, dari kasus kepemilikan PT. Indonesia Cipta Investama, Mobil seharga Rp. 1,1 Milyar dan yang turut diberitakan oleh salah satu media masa online (lihat: http://www.teropongsenayan.com/38560-ketika-lidah-saut-situmorang-berubah-jadi-sembilu) bahwa Saut yang usai terpilih sebagai salah satu pimpinan KPK menjanjikan hal yang merisaukan kalangan penggiat korupsi, yaitu mengabaikan kelanjutan kasus BLBI, FPJP dan Bank Century, serta berpikiran kasus-kasus semacam itu malah bisa menimbulkan korupsi baru. Bagi masyarakat silahkan menilai Saut dari kacamata masing-masing (lihat: http://nasional.kompas.com/read/2016/02/05/14453091/Datangi.KPK.Fahmi.Idris.Pertanyakan.Kasus.Century.dan.BLBI.yang.Dinilai.Mangkrak?utm_campaign=related&utm_medium=bp-kompas&utm_source=news&).

Memperingati Isra Mi’raj: Dakwah di Mesjid Subulussalam Desa Jembayan Dalam

Add Comment
Mesjid Subulussalam Desa Jembayan Dalam Loa Kulu
Alhamdulillah, menyelesaikan satu lagi agenda ummat, yaitu berdakwah. Tepat pada hari Kamis, tanggal 5 Mei 2016 atau bertepatan dengan tanggal 27 Rajab 1437 saya masih dipercaya untuk berkontribusi dalam syiar Islamiyah, yaitu menyampaikan ceramah di Mesjid Subulussalam, Dusun II, Desa Jembayan Dalam, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara. Seperti diketahui setiap tanggal 27 Rajab ummat Islam sedunia memperingati peristiwa Isra Mi’raj, atau peristiwa diperjalankannya Nabi Muhammad Saw dari Mekkah ke Palestina. Peristiwa ini adalah mukjizat terbesar kedua yang diterima Rasulullah Saw setelah diturunkannya Kitab Suci Alquran, yaitu Kitab Suci Ummat islam yang awal diturunkannya diperingati setiap tanggal 17 Ramadhan.

Peristiwa Isra-nya Rasulullah Saw dari Mesjid al Haram di Mekkah menunju ke Mesjid al Aqsha di Palestina diabadikan oleh Allah Swt dalam Kalam-Nya pada Surat Al-Isra (17) ayat 1, yaitu: “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjid Al Haram ke Al Masjid Al Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. Sedangkan peristiwa Mi’rajnya Rasulullah Saw telah diabadikan oleh Allah Swt didalam Surat An Najm (53) ayat 13 dan 14, yaitu: “dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (yaitu) di Sidratil Muntaha”. Sidratul Muntaha menurut ayat ini adalah tempat yang paling tinggi, yaitu di atas langit ke-7, yang telah dikunjungi Nabi ketika dimi'rajkan.

Ada dua hikmah dan pelajaran penting dari peristiwa Isra dan Mi’raj ini. Yang pertama, peristiwa ini menunjukkan keagungan Islam, ke-Mahakuasa-an dan kebesaran Allah Swt. Allah Swt memberikan gambaran sebagian tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Hamba Allah yang baik ialah orang yang tidak dikendalikan oleh harta ataupun kedudukan sehingga tidak menjadi abdul mal (hamba harta) atau abdul kursi (hamba jabatan). Yang kedua, bagi umat Islam peristiwa Isra Mi’raj merupakan peristiwa yang berharga sebab saat itulah Shalat lima waktu (Shubuh, Zuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’) diwajibkan.

Riwayat tentang diperjalankannya Nabi Muhammad Saw pada saat malam dan diangkatnya beliau ke langit untuk bertemu langsung dengan Allah Swt serta menerima perintah kewajiban shalat di lima waktu tercatat dalam Kitab Hadis Shahih Imam Muslim sebagaimana disebutkan berikut.

Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Aku telah didatangi Buraq, yaitu seekor binatang yang berwarna putih, lebih besar dari Keledai tetapi lebih kecil dari Bighal. Ia merendahkan tubuhnya sehingga perut Buraq tersebut mencapai ujungnya”. Dia bersabda lagi: “Maka aku segera menungganginya sehingga sampai ke Baitul Maqdis”. Dia bersabda lagi: “Kemudian aku mengikatnya pada tiang masjid sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para nabi. Sejurus kemudian aku masuk ke dalam masjid dan mendirikan shalat sebanyak dua rakaat. Setelah selesai aku terus keluar tiba-tiba aku didatangi oleh Jibril dengan membawa semangkuk arak dan semangkuk susu, dan aku pun memilih susu. Lalu Jibril berkata, “Kamu telah memilih fitrah”. Lalu Jibril membawaku naik ke langit. Ketika Jibril meminta agar dibukakan pintu, maka ditanyakan “Siapakah kamu?” Jibril menjawab “Jibril”. Ditanyakan lagi “Siapa yang bersamamu?” Jibril menjawab “Muhammad”. Jibril ditanya lagi “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab “Ya, dia telah diutus”. Maka dibukalah pintu untuk kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Adam, dia menyambutku serta mendoakanku dengan kebaikan. Lalu aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril lalu minta supaya dibukakan pintu. Lalu ditanyakan lagi “Siapakah kamu?” Jibril menjawab “Jibril”. Jibril ditanya lagi “Siapa yang bersamamu?” Jibril menjawab “Muhammad”. Jibril ditanya lagi “Apakah dia telah diutuskan?” Jibril menjawab “Ya, dia telah diutuskan”. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria, mereka berdua menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik langit ketiga. Jibril pun meminta supaya dibukakan pintu. Lalu ditanyakan “Siapakah kamu?” Jibril menjawab “Jibril”. Jibril ditanya lagi “Siapakah bersamamu?” Jibril menjawab “Muhammad”. Jibril ditanya lagi “Apakah dia telah diutuskan?” Jibril menjawab “Ya, dia telah diutuskan”. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Yusuf, ternyata dia telah dikaruniakan dengan kedudukan yang sangat tinggi. Dia terus menyambut aku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit keempat. Jibril pun meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi “Siapakah kamu?”. Jibril menjawab “Jibril”. Jibril ditanya lagi “Siapakah bersamamu?” Jibril menjawab “Muhammad”. Jibril ditanya lagi “Apakah dia telah diutuskan?” Jibril menjawab “Ya, dia telah diutuskan”. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Idris Alaihis Salam dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Allah berfirman: “(...dan kami telah mengangkat ke tempat yang tinggi darjatnya)”. Aku dibawa lagi naik ke langit kelima. Jibril lalu meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi “Siapakah kamu?” Jibril menjawab “Jibril’. Jibril ditanya lagi “Siapakah bersamamu?”. Jibril menjawab “Muhammad”. Jibril ditanya lagi “Apakah dia telah diutuskan?” Jibril menjawab “Ya, dia telah diutuskan”. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Harun dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit keenam. Jibril lalu meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi “Siapakah kamu?” Jibril menjawab “Jibril”. Jibril ditanya lagi ‘Siapakah bersamamu?” Jibril menjawab “Muhammad”. Jibril ditanya lagi “Apakah dia telah diutuskan?” Jibril menjawab “Ya, dia telah diutuskan”. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Musa dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit ketujuh. Jibril meminta supaya dibukakan. Kedengaran suara bertanya lagi “Siapakah kamu?” Jibril menjawabnya Jibril”. Jibril ditanya lagi “Siapakah bersamamu’ Jibril menjawab “Muhammad”. Jibril ditanya lagi “Apakah dia telah diutuskan?” Jibril menjawab “Ya, dia telah diutuskan”. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Ibrahim, dia sedang berada dalam keadaan menyandar di Baitul Makmur. Keluasannya setiap hari bisa memasukkan tujuh puluh ribu malaikat. Setelah keluar, mereka tidak kembali lagi kepadanya (Baitul Makmur). Kemudian aku dibawa ke Sidratul Muntaha. Daun-daunnya besar seperti telinga gajah dan ternyata buahnya sebesar tempayan. Dia bersabda: “Ketika dia menaikinya dengan perintah Allah, maka sidrah muntaha berubah. Tidak seorang pun dari makhluk Allah yang mampu menggambarkan keindahannya karena indahnya. Lalu Allah memberikan wahyu kepada dia dengan mewajibkan salat lima puluh waktu sehari semalam. Lalu aku turun dan bertemu Nabi Musa, dia bertanya “Apakah yang telah difardukan oleh Tuhanmu kepada umatmu?” Dia bersabda: “Salat lima puluh waktu”. Nabi Musa berkata “Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Aku pernah mencoba Bani Israel dan menguji mereka'. Dia bersabda: "Aku kembali kepada Tuhan seraya berkata “Wahai Tuhanku, berilah keringanan kepada umatku”. Lalu Allah Swt mengurangkan lima waktu salat dari dia. Lalu aku kembali kepada Nabi Musa dan berkata Allah telah mengurangkan lima waktu salat dariku”. Nabi Musa berkata umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi. Dia bersabda: “Aku masih saja bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa, sehingga Allah berfirman: “Wahai Muhammad! Sesungguhnya aku fardukan lima waktu sehari semalam. Setiap salat fardu dilipatgandakan dengan sepuluh kali lipat. Maka itulah lima puluh salat fardu. Begitu juga barangsiapa yang berniat, untuk melakukan kebaikan tetapi tidak melakukanya, niscaya akan dicatat baginya satu kebaikan. Jika dia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya barangsiapa yang berniat ingin melakukan kejahatan, tetapi tidak melakukannya, niscaya tidak dicatat baginya sesuatu pun. Lalu jika dia mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan baginya. Aku turun hingga sampai kepada Nabi Musa, lalu aku memberitahu kepadanya. Dia masih saja berkata “Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan”. Aku menjawab “Aku terlalu banyak berulang-ulang kembali kepada Tuhanku sehingga menyebabkanku malu kepada-Nya”. (Muslim. Shahih Muslim, Hadits Nomor 234)

Nasionalisme Mustafa Kemal Ataturk: Pembaruan Turki Pasca Kekhalifahan Turki Usmani

Add Comment
Mustafa Kemal Attaturk
Pendahuluan
Keberhasilan mengubah bentuk negara Turki dari dinasti (kesultanan atau kekhalifahan) menjadi republik menjadi kemenangan awal yang sangat menyolok dari gerakan politik Mustafa Kemal. Tidak ada seorang pun dari kalangan kelompok pembaru, baik dari Usmani Muda maupun Turki Muda yang pernah mengajukan konsep pendirian Republik Turki sebagaimana yang diajukan oleh Mustafa Kemal. Ketika Turki diproklamirkan sebagai negara republik, kondisi ini (secara tidak langsung) telah mengakhiri kekuasaan tunggal Sultan. Bahkan, setahun kemudian lembaga kekhalifahan yang sebelumnya terpisah dari kesultanan, juga turut dihapuskan mengingat isu yang berkembang di masyarakat Turki bahwa telah terjadi dualisme kepemimpinan.

Mustafa Kemal yang bergelar Pasya dan kemudian mendapat gelar “Ataturk” (Bapak Turki) adalah sang arsitek berdirinya negara Republik Turki. Keberhasilan gerakan politiknya ketika ia memobilisir massa Turki untuk berjuang melawan pendudukan asing melalui Gerakan Perjuangan Hak-hak Anatolia dan Rumania (Defense of Raight of Anatolia and Rumania), mendirikan Majelis Nasional Agung (Grand National Assembly) serta memberlakukan konstitusi baru, menjadi kemenangan awal yang sangat menyolok dan mengantarkannya menjadi pemimpin dan juru bicara gerakan nasionalisme Turki (http://www.fib.ui.ac.id/artikel.fib./2005/05/16/op.html/top).

Makalah ini akan mengulas secara singkat namun jelas gerakan nasionalisme Turki oleh Mustafa Kemal Ataturk, khususnya sejak tahun 1920 sampai dengan tahun 1938. Yaitu, suatu upaya pembaruan negara Turki yang dilakukan oleh Mustafa Kemal Ataturk pasca Kekhalifahan Turki Usmani, prinsip pemikiran serta gerakannya dalam membentuk negara Turki, yang diketahui merupakan sintesa dari pemikiran-pemikiran pembaruan yang telah dikemukakan sebelumnya pada era Usmani Muda dan Turki Muda.

Biografi Singkat Mustafa Kemal Ataturk
Syafiq A. Mughni (1997:145) didalam bukunya menyatakan bahwa Mustafa Kemal lahir di Salonika pada tahun 1881. Ia dilahirkan dari orang tuanya yang bernama Ali Riza, yaitu seorang pegawai biasa di ­salah satu kantor pemerintah di kota Salonika, sedangkan ibunya bernama Zubayde (atau, Zubaida Hanim), seorang wanita yang amat dalam perasaan keagamaannya. Harun Nasution (1994:143) menyebutkan bahwa Ali Riza, ayah Mustafa Kemal, meninggal dunia saat Mustafa Kemal berusia tujuh tahun. Selanjutnya, ia kemudian diasuh oleh ibunya.

Syafiq A. Mughni (1997:145) juga menyebutkan bahwa riwayat pendidikan Mustafa Kemal dimulai sejak tahun 1893 ketika ia memasuki sekolah Rushdiye (yaitu sekolah menengah militer Turki). Kemudian, pada tahun 1895 ia masuk ke akademi militer di kota Monastir. Pendidikan Mustafa Kemal dilanjutkan pada 13 Maret 1899, dimana ketika itu ia masuk ke sekolah ilmu militer di Istambul sebagai kadet pasukan infanteri. Bahkan, pada tahun 1902 ia ditunjuk menjadi salah satu staf pengajar di sekolah itu. Pada bulan Januari 1905 ia kemudian berhasil menamatkan pendidikannya dan lulus dengan pangkat Kapten dan bergelar Pasya.

Dilatarbelakangi oleh Perang Dunia I pada tahun 1918, dimana Imperium Turki Usmani mengalami masa kemuduran yang sangat menyedihkan. Bahkan, satu persatu wilayah kekuasaan yang jauh dari pusat pemerintahan membebaskan diri dari kekuasaan Turki Usmani. Dan, lebih buruk lagi, negara-negara sekutu berupaya membagi-bagi wilayah kekuasaan Turki untuk dijadikan negara koloni mereka. Kondisi porak porandanya Imperium Turki Usmani inilah yang kemudian menumbuhkan semangat nasionalisme pada generasi muda Turki ketika itu, termasuk pada diri Mustafa Kemal Pasya. Pemikiran tentang identitas bangsa dan pentingnya suatu negara nasionalis menjadi wacana yang banyak diperdebatkan.

Mustafa Kemal Pasya yang kemudian bergelar “Ataturk” adalah tokoh penggerak revolusi Turki. Gelar “Ataturk” itu sendiri adalah nama keluarga yang digunakan oleh Mustafa Kemal Pasya setelah Pemberlakuan Undang-Undang Hukum Sipil di Turki pada tahun 1935 yang mengharuskan setiap orang Turki menggunakan nama kecil sebagaimana yang berlaku pada pola nama Barat (Ira M. Lapidus, 1999:91). Selain itu, gelar “Ataturk” juga berarti “Bapak Turki”. Gerakan nasionalisme Turki yang dipimpin oleh Mustafa Kemal Ataturk merupakan leburan dari berbagai kelompok gerakan kemerdekaan di Turki, yang semula bertujuan untuk mempertahankan kemerdekaan Turki kemudian pada perkembangan selanjutnya diarahkan untuk menentang legitimasi kekuasaan Sultan. Mustafa Kemal Ataturk mendirikan Negara Republik Turki di atas reruntuhan Kekhalifahan Turki Usmani dengan prinsip sekularisme, westernisme dan nasionalisme. Meskipun Mustafa Kemal Ataturk bukanlah yang pertama kali memperkenalkan ide-ide tersebut di Turki. Ia banyak mendapat inspirasi dari pemikiran Ziya Gokalp dan Abdullah Jewdet. Ziya Gokalp sendiri adalah seorang Sosiolog Turki yang diakui sebagai Bapak Nasionalisme Turki. Pemikiran Ziya Gokalp yang merupakan sintesa antara tiga unsur, yaitu: ke-Turki-an, Islam dan Modernisasi, inilah yang pada giliran berikutnya membentuk karakter bangsa Turki, yang diperjuangkan oleh Mustafa Kemal Ataturk, dengan sedikit perbedaan tentunya, terkhusus pada akses Islam yang menjadi kultur Bangsa Turki.

Gerakan Nasionalisme Mustafa Kemal Ataturk
Mengulas tokoh Mustafa Kemal Ataturk tentunya tidak dapat dipisahkan dari sejarah terbentuknya negara Turki modern. Negara Turki yang pada awalnya adalah sebuah Imperium Islam dengan Sultan sebagai kepala negara dan simbol Khalifah sebagai legitimasi kekuasaannya, akhirnya runtuh sejak tahun 1924. Bahkan, setahun sebelumnya, tepatnya pada tahun 1923, sistem pemerintahan negara Turki Usmani yang berbentuk kerajaan di bawah kepemimpinan Sultan Abd al-Hamid III telah dihapuskan. Perubahan sistem kenegaraan Turki Usmani pada tahun 1923 inilah yang telah mengantarkan Mustafa Kemal Ataturk ke puncak karir politiknya yang ditandai dengan pengangkatannya sebagai Presiden Republik Turki sepanjang hidup.

Mustafa Kemal Ataturk melalui gerakan politiknya sejak diangkat menjadi Presiden Republik Turki terkenal dengan stereotip rezim diktator. Kontroversi ide kebangsaan dengan revolusi identitas kultural masyarakat Turki yang dijalankan oleh rezim Mustafa Kemal Ataturk telah menjauhkan budaya Islam yang telah mengakar kuat dan melembaga di tengah-tengah masyarakat muslim Turki. Bagi sebagian kalangan konservatif, rezim Mustafa Kemal Ataturk dianggap telah mencerabut akar dogmatisme Islam dari masyarakat muslim Turki.

Pengaruh Usmani Muda dan Turki Muda
Gerakan nasionalisme Turki oleh Mustafa Kemal Ataturk banyak dipengaruhi oleh pemikiran pembaruan era Usmani Muda dan Turki Muda. Menurut Ira M. Lapidus (1999:77-78) pada era Usmani Muda, tokoh-tokoh seperti Namik Kemal (1840-1888), Ibrahim Shinasi (1826-1817), dan Ziya Pasha (1825-1880), meskipun di satu sisi mereka berkomitmen terhadap kontinuitas imperium Usmani, namun mereka tercondong kepada pembentukan sebuah negara konstitusional. Mereka meyakini bahwasanya nilai-nilai luhur Imperium Usmani harus diukur melalui kontribusinya terhadap hak-hak asasi warganya, kontribusinya terhadap perlindungan hak hidup dan hak milik, terhadap keadilan, dan sikap kebijakan yang dapat memuaskan pihak warga Muslim dan non-Muslim. Mereka juga menekankan aspek-aspek warisan Islam yang mendorong pembelajaran ilmu pengetahuan dan pengajaran teknik, nilai-nilai rasional daripada keimanan secara buta, dan pentingnya perjuangan aktif demi perbaikan individu dan sosial. Bahkan, para tokoh Usmani Muda juga menyokong penggunaan Bahasa Turki untuk menjembatani jarak antara elit Usmani dengan sebagian besar warganya.

Persepsi kalangan Usmani Muda terhadap kalangan Turki Muda, yaitu kelompok ini tetap mempertahankan persekutuan dengan Imperium Usmani namun mereka juga melakukan serangkaian agitasi guna merestorasi sebuah rezim parlementer dan konstitusional. Secara internal, kekuatan Turki Muda terbagi kepada kelompok Ahmad Riza yang menghendaki seorang Sultan yang kuat, yang mengutamakan unsur-unsur Muslim-Turki dari warga Usmani; dan kelompok yang dipimpin oleh Sultan Sabaheddin yang menekankan bentuk-bentuk desentralisasi Pemerintahan Usmani, dan menghendaki sebuah masyarakat federasi dengan pemberian otonomi bagi warga Kristen dan warga minoritas lainnya (Ira M. Lapidus, 1999:79-80).

Pada dasarnya antara kelompok Usmani Muda dan kelompok Turki Muda memiliki kesamaan visi berupa pembaruan Imperium Turki Usmani dengan tetap mempertahankan kontinuitas kekuasaan Sultan. Meskipun, pemikiran pembaruan tersebut cenderung diarahkan kepada penguatan kapasitas masyarakat Turki. Kedua kelompok di era yang berbeda itu melihat bahwa Imperium Turki Usmani yang mulai melemah harus memiliki identitas baru yang lebih rasional dengan tuntutan situasi sosial dan politik yang berkembang. Kenyataan bahwa Pemerintahan Imperium Turki Usmani yang tidak efektif serta serangkaian kekalahan yang diderita oleh Imperium Turki Usmani dari kekuatan Eropa, tidak dapat dinafikan. Sehingga perlu dilakukan pembaruan didalam sistem Pemerintahan Turki Usmani.

Pengaruh Ziya Gokalp dan Abdullah Jawdet
Di samping kedua kelompok elite di atas, pemikiran pembaruan Mustafa Kemal Ataturk juga banyak dipengaruhi oleh Ziya Gokalp (1875-1924) dan Abdullah Jewdet (1869-1932). Ziya Gokalp meresmikan identitas kultural rakyat Turki dan menyerukan reformasi Islam untuk menjadikan Islam sebagai ekspresi dari etos Turki. Sedangkan Abdullah Jewdet menyampaikan landasan nasionalisme Turki. Gagasan kebangsaan tersebut memperkuat kecenderungan terhadap sekularisme dan modernitas (Ira M. Lapidus, 1999:82-83).

Mustafa Kemal Ataturk memiliki prinsip pemikiran pembaharuan Turki yang kemudian menjadi corak ideologinya. Prinsip pemikiran pembaharuan Turki itu terdiri dari tiga unsur, yakni : nasionalisme, sekularisme dan westernisme (Tim Redaksi IAIN Syarif Hidayatullah, t.t.:229). Dari ketiga prinsip di atas kemudian melahirkan ideologi kemalisme, yakni : republikanisme, nasionalisme, kerakyat­an, sekularisme, etatisme, dan revolusionisme. Ideologi yang diasosia­sikan dengan figur Mustafa Kemal Ataturk ini kemudian berkembang di Turki dan dikembangkan oleh pengikutnya (Tim Penyusun IAIN Syarif Hidayatullah, t.t.:591).

Gagasan Mustafa Kemal Ataturk terhadap westernisme telah nampak saat pertemuan Majelis Nasional yang dipimpinnya pada 1924, yang mana dalam pidatonya ia melontarkan pernyataan yang intinya ia bertekad menjamin stabilitas Republik Turki, memurnikan serta memperbarui ajaran Islam, dan menciptakan kesatuan sistem pendidikan nasional dengan cara membebaskannya dari politik yang sudah berlaku pada abad sebelumnya. Menurutnya, untuk merealisasikan hal tersebut Turki harus berorientasi ke Barat. Ia melihat bahwa dengan meniru Barat negara akan maju. Sedangkan berkaitan dengan gagasan nasionalisme, Mustafa Kemal Ataturk merancang bahwa Islam yang berkembang di Turki adalah Islam yang telah dipribumikan ke dalam budaya Turki. Sistem kekhalifahan dihapuskan, hukum syariat dihapus, tetapi kembali kepada Alquran dan Hadis, dan menerjemahkan Alquran dengan bahasa Turki. Menurutnya Islam dapat diselaraskan dengan dunia modern. Ataturk berpendapat bahwa turut campurnya Islam dalam segala lapangan kehidupan membawa kemunduran pada bangsa dan agama. Selama Islam masih menjadi agama resmi maka negara akan tetap dalam bahaya. Menurutnya, pemerintahan teokrasi selalu menjadi saudara kembar yang tak dapat dipisahkan dari pemerintahan autokrasi. Atas dasar itu, agama harus dipisahkan dari negara. Islam tidak perlu menghalangi adopsi Turki sepenuhnya terhadap peradaban Barat, karena peradaban Barat bukanlah Kristen, sebagaimana Timur bukanlah Islam. Dengan melancarkan gagasan westernisasi dan penerapan gagasan nasionalisme sebenarnya Ataturk telah memulai proses sekularisasi (Tim Redaksi IAIN Syarif Hidayatullah, t.t.:229).

Sedangkan menyangkut ideologi Kemalisme, dapat diuraikan sebagai berikut (Tim Penyusun IAIN Syarif Hidayatullah, t.t.:591-592):

Republikanisme merupakan ciri awal dari Kemalisme. Keberhasilan mengubah bentuk negara Turki dari dinasti (kesultanan atau kekhalifahan) menjadi republik sebagaimana dicantumkan dalam Konstitusi 1923 adalah kemenangan awal Attaturk yang menyolok. Republikanisme menjadi ciri tersendiri bagi ber­kembangnya pemerintahan yang diidamkan Attaturk.

Nasionalisme Turki berkembang secara kon­krit setelah runtuhnva Kesultanan Usmani. Memang Ziya Gokalp te­lah mengembangkan konsep nasionalisme Turki, tetapi ia tidak menghasilkan ide tumpah darah yang faktual dan konkrit. Di pihak lain, kelompok-kelonipok non-Muslim, khususnya di Balkan dan Yunani, telah lebih dulu mengem­bangkan nasionalisme yang jelas dan praktis. Nasionalisme Turki yang akhirnya berkem­bang meliputi tiga aspek, yakni: historis, kebudayaan dan kemanusiaan. Secara historis perasaan nasionalisme ini berkenaan erat dengan tim­bulnya konsep wilayah Republik Turki yang meliputi kawasan-kawasan Anatolia dan Ru­melia (Thrace). la bukan entitas (wujud) Us­mani atau Turani yang lebih besar. Unsur pen­ting dalam nasionalisme Turki adalah kebu­dayaan. Nasionalisme tersebut bukan dida­sarkan atas ras melainkan kebudayaan, yaitu nasionalisme bagi orang-orang yang berbaha­sa Turki, berbudaya Turki, dan hidup di Turki. Nasionalisme Turki bukanlah menuju kepada chauvinisme. la justru menekankan perda­maian dan persahabatan di antara umat ma­nusia.

Kerakyatan merupakan prinsip baru yang dikumandangkan Ataturk, artinya demokrasi di Turki adalah “pemerintahan rakyat, bersama rakyat, dan untuk rakyat”. Hal ini sangat ber­tentangan dengan konsep sebelumnya yang dianut penguasa Usmani. Istilah re`ayah telah digunakan untuk mengidentifikasikan orang kebanyakan yang mayoritas petani. Pada 1924 Ataturk telah menggunakan istilah khalq (halk) dalam arti rakyat, sebagai ganti “millet” yang berbau keagamaan. “Parlemen ini adalah parlemen rakyat (halk) Turki. Kedudukan dan kekuasaannya dapat menjadi efektif hanya apabila didasarkan kepada kepercayaan rakyat Turki di bumi Turki”, ucapnya di depan sidang parlemen tahun itu. Memang ide populisme (kerakyatan) yang diketengahkan Ataturk menjamin adanya ekualitas, tanpa pengisti­mewaan bagi seluruh lapisan rakyat Turki.

Etatisme sebagai prinsip yang telah lama berkembang di Eropa, khususnya pada abad ke-19 cenderung rnemberikan kekuasaan be­sar terhadap negara untuk mencampuri masalah ekonomi. Konsep etatisme Ataturk ber­beda dengan yang tumbuh di Eropa dalam sa­tu hal, etatisme di Barat berkembang untuk mengurangi ketidakseimbangan pemilikan kekayaan dalam negara, sedangkan di Turki Ataturk menginginkan negara untuk mendatangkan kekayaan. Sebagaimana diumumkan pada 1931 bahwa etatisme di Turki memberikan wewenang penuh kepada negara untuk mengelola tam­bang, hutan, jalan air, kereta api, perusahaan transportasi, bank, dan keperluan umum. Da­lam hal ini jelas negara tidak memonopoli se­mua aktivitas ekonomi, bahkan selaras dengan ide kerakyatan dan nasionalisme individu di­beri kebebasan untuk mengembangkan inte­rest ekonomi mereka. Hanya saja, diusahakan agar ada balance antara ambisi pribadi dan keperluan bersama sebagai satu bangsa. Ka­renanya etatisme diharapkan menjadi katalis dalam inisiatif dan pemerataan ekonomi.

Dalam proses penataan masyarakat dan ne­gara Turki, Attaturk melancarkan politik se­kularisme. Menurut versinya, sekularisme bu­kan saja memisahkan masalah bernegara (le­gislatif, eksekutif dan yudikatif) dari pengaruh agama melainkan juga membatasi peranan agama dalam kehidupan orang Turki sebagai satu bangsa. Sekularisme ini adalah lebih me­rupakan antagonisme terhadap hampir segala apa yang berlaku di masa Usmani. Ataturk sendiri tidak menggunakan kata sekularisme, tetapi lihat sebagian dari ucapannya:

Pe­merintah yang dibentuk oleh Majelis Nasional Turki adalah nasionalis dan materialistis, ia menyembah realitas. la bukanlah pemerintah yang mau membunuh atau membawa bangsa ke dalam lumpur guna mengikuti ideologi (baca: agama) yang tidak bermanfaat... Setiap pribadi bebas untuk berpendapat dan mempercayai (agama), bebas untuk menganut aliran politik yang sesuai untuk dirinya, bebas untuk ber­tindak apapun guna kebaikan dirinya dalam hal yang berkenaan dengan peraturan ke­agamaan. (Tim Penyusun IAIN Syarif Hidayatullah, t.th:591-592)

Upaya Ataturk yang begitu tajam menggusur pengaruh dan peranan agama da­lam kehidupan publik di Turki tidak diragukan sangat dipengaruhi oleh kekecewaannya atas penggunaan simbol Islam oleh penguasa Us­mani terutama guna memberikan legitimasi ter­hadap kedudukan mereka.

Revolusi yang dimotori Attaturk harus selalu bersifat revolusioner, karena ia merupakan “re­form atas prinsip-prinsip” bernegara. Revolusi Turki menurutnya adalah “sebuah hasil alami dan abadi dari prinsip-printiip revolusioner sehingga kehidupan dianggap sebagai berda­sarkan kepada tantangan duniawi belaka. Sebagai pengejawantahannya Ataturk meng­acu kepada sentralitas ilmu pengetahuan da­Iam menciptakan perubahan-perubahan pen­ting dan spektakular. Dengan berpegang kepada ilmu positif, bukan yang mistis dan dogmatis, maka prinsip-prinsip akan terus diperbaharui guna menjaga vitalitas dan re­levansi. Menurut Ataturk “kita memperoleh inspirasi bukan dari langit tetapi langsung dari kehidupan”.

Penutup
Mustafa Kemal Ataturk meninggal dunia di tahun 1938. Usaha pembaharuan yang dimulainya dijalankan terus oleh pengikut-pengikutnya. Meskipun demikian, rasa keagamaan yang mendalam dikalangan rakyat Turki tidak menjadi lemah dengan sekularisasi yang di­lakukan Mustafa Kemal Ataturk dan pengikutnya. Bahkan tidak lama kemudian gerakan “kembali kepada agama” timbul di Turki.

Tercatat dua tahun pasca wafatnya Mustafa Kemal Ataturk, yakni di tahun 1940-an imam-imam tentara mulai bertugas di Angkatan Bersenjata Turki. Di tahun 1949 pendidikan agama dimasukkan kembali ke dalam kurikulum sekolah selama dua jam seminggu. Setahun kemudian pendidikan agama itu dibuat bersifat wajib. Fakultas Ilahiyat yang pada tahun 1933 telah dirobah menjadi Institut Studi Islam, kemudian di­hidupkan kembali di tahun 1949. Dan, mulai dari tahun 1950 orang­-orang Turki telah dibolehkan naik haji ke Mekkah.

Daftar Pustaka
Ade Solihat. Kemalisme, Budaya dan Negara Turki. http://www.fib.ui.ac.id/artikel.fib./2005/05/16/op.html/top
Harun Nasution. 1994. Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Jakarta: PT. Bulan Bintang.
Ira M. Lapidus. 1999. Sejarah Sosial Umat Islam diterjemahkan dari judul asli A History of Islamic Societies oleh Ghufron A. Mas’adi. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Syafiq A. Mughni. 1997. Sejarah Kebudayaan Islam Di Turki. Jakarta: Logos.
Tim Penyusun IAIN Syarif Hidayatullah. t.t., Ensiklopedia Islam Indonesia .Jakarta; Penerbit Djambatan.
Tim Redaksi IAIN Syarif Hidayatullah. t.t.. Ensiklopedi Islam. Jakarta; PT. Ichtiar Baru Van Hoeve.

Catatan:
Ditulis oleh H. Mubarak, S.Pd.I., M.Pd.I. Makalah ini disajikan dalam diskusi ilmiah dosen FAI Unikarta.











Pembelaan Ibnu Rusyd dari Serangan Al-Ghazali

Add Comment
Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd
Pendahuluan
Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd adalah dua tokoh dunia filsafat dan tasawuf. Apabila kita bisa memahami posisi mereka. Maka tidak akan ada istilah kontroversi dalam pemikiran mereka. Orang boleh berbeda pandangan tentang siapa al-Ghazali, apakah beliau seorang filosof ataukah seorang sufi? Kalau kita mulai mengkaji al-Ghazali lewat pintu gerbang karyanya “Maqasid al-Falasifah” atau “Tahafut al-Falasifah” atau lewat “Mi’yar al-‘Ilm”nya, maka kita akan berkesimpulan bahwa al-Ghazali adalah seorang filosof. Tapi kalau kita masuk kepemikiran al-Ghazali lewat pintu gerbang “Ihya Ulum al-Din” atau kitab “Arba’in” atau juga lewat “al-Munqidz min al-Dhalal”, maka kita akan berkesimpulan bahwa al-Ghazali adalah seorang sufi.

Ibnu Rusyd juga akan dipandang sebagai seorang filosof dengan karya besarnya yang memberikan syarah pada pemikiran Aristoteles dan bukunya berisikan sanggahan dan keritikan atas serangan al-Ghazali terhadap filsafat. Akhirnya terjadi larangan keras untuk mempelajari filsafat di madrasah-madrasah Islam walaupun tanpa mereka sadari mereka pun mempelajarinya. Begitu pula tasawuf banyak menerima tuduhan-tuduhan yang tak sewajarnya. Banyak alasan yang disampaikan oleh orang yang tidak suka terhadapnya. Citra heterodok, yang melibatkan doktrin wahdatul wujud, ittihad dan hulul adalah sebab utamanya. Kemudian tuduhan bahwa ajaran tasawuf itu berujung pada kesalehan pribadi tidak menyentuh kepekaan dan kepedulian sosial merupakan sebab lain. Belum lagi tuduhan kaum modernis yang menyatakan bahwa praktek-praktek tarekat berubah menjadi penyembahan atau pemuliaan pribadi-pribadi pendiri aliran (colt of personalites) dan beberapa kesan yang bernada minor lainnya. Padahal semua tuduhan itu tidak beralasan (objektif) dan sangat diskriminatif.

Penulis berasumsi bahwa hal itu tidak akan terjadi, jika kita semua mau masuk secara integral dalam disiplin ilmu tersebut. Begitu juga jadilah seorang sufi apabila ingin memahami tasawuf. Karena sering terjadi missunderstanding dalam memahami filsafat dan tasawuf disebabkan penggunaan sudut pandang dan tolak ukur yang berbeda. Penulis makalah ini mencoba menggambarkan tentang argumen-argumen al-Ghazali dalam menyerang filsafat dan bantahan-bantahan Ibnu Rusyd untuk membelanya. Seyogyanya, kedua pendekatan kepada alam pemikiran al-Ghazali dan Ibnu Rusyd itu dipadukan, sehingga tidak terasa berat sebelah.

Karya Ibnu Rusyd
Ibnu Rusyd atau Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad Rusyd lahir di Cordova pada tahun 520 H/1126 M. Keluarganya terkenal alim dalam ilmu fiqh mazhab Maliki, mazhab resmi negara waktu itu. Ayah dan kakeknya pernah menjadi Kepala Pengadilan di Andalusia. Latar belakang keagamaan inilah yang memberikan kesempatan untuk meraih kedudukan yang tinggi dalam studi-studi keislaman. Ia sendiri pernah menjadi hakim di Seville dan beberapa kota lain di Spanyol (Hery Sucipto, 2003:183). Ibnu Rusyd waktu kecilnya mempelajari Ilmu Kalam, seperti yang dipahamkan, diuraikan dan dibela oleh aliran Asy’ariyah, pada ulama-ulama negerinya. Kemudian mempelajari fiqih menurut mazhab Maliki dan belajar hadis pada ayahnya sendiri. Kitabnya yang terkenal dalam fiqih ialah “Bidayat al-Mujtahid”. Setelah lanjut usia, ia berhubungan dengan Ibnu Tufail, seorang filosof yang terkenal dengan bukunya “Hayy ibn Yaqdzan”.

Ibnu Rusyd mempelajari filsafat dari sumbernya yang asli, yaitu sumber Yunani. Ia sangat tertarik dengan filsafat tersebut, sehingga ia terpesona oleh Aristoteles dan pikiran-pikirannya yang sangat luar biasa. Ia yakin bahwa Aristoteles itulah yang dimaksud firman Allah SWT. di dalam Al Qur’an Surat Ali Imran (3) ayat 73, yaitu: “dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu”. Katakanlah: “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

Pada redaksi ayat “karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya” inilah maka Ibnu Rusyd meyakini bahwa Aristoteles adalah sumber ilmu dan keutamaan dan merupakan akal manusia idam-idaman yang dekat kepada akal universal (akal Tuhan). Ibnu Rusyd memberikan ulasan terhadap karangan-karangannya. Karena itu ia beri gelar oleh Dante dalam Divina Commedia-nya (Komedi Ketuhanan) sebagai pengulas Aristoteles (Syarih Aristo) (A. Hanafi, 1979:81). Dalam bidang filsafat Islam ia telah memainkan peranan yang penting dengan kitabnya yang berjudul, “Tahafut al-Tahafut” (kekacauan kitab Tahafut), yang dimaksudkan sebagai pembelaan filsafat terhadap serangan al-Ghazali dalam kitabnya “Tahafut al-Falasifah” (kekacauan para Filosop) yang berbicara atas nama aliran Asy’ariyah.

Ibnu Rusyd sangat menyayangkan terjadinya perpecahan dikalangan kaum Muslimin, menjadi golongan-golongan seperti Mu’tazilah, Asy’ariyyah dan Ahli hadis Hasywiyyah (anthropomorphist). Masing-masing mengaku telah mencapai kebenaran, sedang lainnya sesat. Hal ini tidak lain dikarenakan salah memahami maksud syari’at. Dengan pemikiran-pemikirannya dan pendapat-pendapatnya ia tidak bermaksud menimbulkan golongan baru, tetapi ia hendak mengemukakan argumentasi-argumentasi kepercayaan-kepercayaan agama yang tepat diterima oleh setiap orang, bagaimanapun juga tingkat kecerdasannya dan hendak menghapuskan atau mengurangi sebab-sebab perpecahan. (A. Hanafi, 1979:81).

Jika sebagian orang ada yang menganggap bahwa filsafat yang sebenarnya ialah yang berlawanan dengan kepercayaan-kepercayaan dan nash-nash agama. Anggapan ini bagi Ibnu Rusyd adalah salah, hal ini disebabkan karena mereka tidak mempunyai pedoman dalam menakwilkan nash-nash agama, yang disebut “Mutasyabihat”. Dengan perkataan lain karena tidak mempunyai metode dan hakekat filsafat yang memungkinkannya dipertemukannya dengan kepercayaan-kepercayaan Islam. Cara mempertemukan ialah dengan jalan menafsirkan kepercayaan-kepercayaan Islam dengan tafsirannya yang diterima dan diharuskan akal. Kalau pertemuan agama dan filsafat, terutama filsafat Aristoteles, sudah dapat dibuktikan kebenaran-kebenarannya dengan alasan-alasan logika, maka pertentangan antara kaum muslimin sendiri biasa bisa dihapuskan. Akan tetapi, menurut Ibnu Rusyd, pikiran-pikiran atau pendapat-pendapat untuk mempertemukan agama dan filsafat tidak perlu diberitahukan (dikemukakan) kecuali kepada orang-orang tertentu, yang sanggup menerimanya. (A. Hanafi, 1979:82).

Sebagai filosof, Ibnu Rusyd memiliki pengaruh besar di kalangan Istana, tetapi ia tidak disenangi oleh kaum ulama dan kaum fuqaha’. Sewaktu timbul peperangan antara Sultan Abu Yusuf dan kaum Kristen, Sultan berhajat pada sokongan kaum ulama dan kaum fuqaha’. Keadaan berbalik dan Ibnu Rusyd dengan mudah dapat disingkirkan oleh kaum ulama dan fuqaha’. Ia dituduh membawa filsafat yang menyeleweng dari ajaran-ajaran Islam dan dengan demikian ditangkap dan diasingkan ke suatu tempat bernama Lucena di daerah Cordova (Hery Sucipto, 2003:184). Dengan timbulnya pengaruh kaum ulama dan fuqaha’ ini, kaum filosof mulai tidak disenangi lagi dan buku-buku mereka dibakar. Ibnu Rusyd sendiri kemudian diasingkan. Tapi aib yang diderita oleh Ibnu Rusyd tidak berlangsung lama. Dan al-Mansur sekembalinya dari Marrakusy mengampuni dan memanggilnya kembali. Ibnu Rusyd pergi ke Marrakusy, dan meninggal pada tahun 595 H/1198 M. (M.M. Syarif, 1985:203).

Adapun karya tulis yang telah dibuat oleh Ibnu Rusyd (Hasyimsyah Nasution, 1999:114-115) diantaranya adalah:
  1. Bidayat al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid fi al-Fiqh (Buku yang terkenal di bidang Fiqih);
  2. Kitab al-Kulliat fi al-Thib (Diterjemahkan Bahasa Latin: Coliget);
  3. Fashl al-Maqal fima bain al-Hikmah wa al-Syari’ah min al-Ittishal dan Kasyf ‘an Manahij al-Adillah fi ‘Aqaid al-Millah (Kedua buku ini merupakan kajian teologi yang mencoba mempertemukan agama dan filsafat);
  4. Thahafut al-Tahafut (Buku ini merupakan sanggahan terhadap karya al-Ghazali Tahafut al-Falasifah, yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin dan banyak mempengaruhi Thomas van Aquinas); serta
  5. Dhamimah li Masalah al-Qadim (Buku yang membahas ideologi Muhammad Ibn Tumart)

Pembelaan Ibnu Rusyd dari Serangan Al-Ghazali
Kita dengan mudah mengambil pokok-pokok pemikiran filosofis al-Ghazali yang menyanggah teori metafisika Ibnu Sina. Hal itu tercantum dalam 20 persoalan yang dikritiknya dalam bukunya “Tahafut al-Falasifah” Tiga butir persoalan yang menjadi sasaran kritik tajamnya (memvonis kafir) adalah:
  1. Bahwa Allah hanya mengetahui hal-hal yang besar dan tidak mengetahui hal-hal yang kecil.
  2. Bahwa alam semesta ini adalah qadim atau kekal tanpa permulaan.
  3. Bahwa diakhirat kelak yang dihimpun hanyalah ruh manusia bukan jasadnya. (Harun Nasution, 1992:50).
Menurut al-Ghazali bahwa pendapat alam tidak bermula tak dapat diterima bagi kaum teologi karena menurut teologi Tuhan adalah pencipta, dan dimaksud pencipta ialah menciptakan sesuatu dan “tiada” (cretio ex nihilo). Kalau alam dikatakan tidak bermula maka alam bukanlah diciptakan dan dengan demikian Tuhan bukanlah pencipta. Kemudian menurutnya Allah mengetahui segala sesuatu sampai hal-hal yang terkecil, karena Alquran banyak menjelaskan hal tersebut. Demikian juga pembangkitan jasmani jelas disebutkan dalam Alquran. (Harun Nasution, 1986:65).

Al-Ghazali mengatakan bahwa bahaya filsafat terletak pada filsafat ketuhanan (metafisika) yang ingin menentang supremasi agama secara langsung dan ingin melepaskan pengaruh agama. Sehingga filsafatlah yang tertinggi sedangkan teks agama dianggap rendah. Dia tidak menyibukkan diri, pikiran dan penanya untuk membantah pendapat-pendapat golongan materialisme dan naturalisme dari kalangan filosof yang mengingkari masalah ketuhanan atau akhirat karena masalah mereka sudah jelas. Setiap Muslim tidak mungkin menerima pemikiran mereka karena menentang pokok ajaran Islam secara jelas. Ketika menyerang filsafat al-Ghazali memberikan beberapa kriteria (Yusuf al-Qaradhawi, 1997:27), yaitu: bagian yang harus dikafirkan, bagian filsafat yang dianggap bid’ah, dan bagian yang tidak harus diingkari sama sekali.

Al-Ghazali tidak ingin menghancurkan filsafat untuk membangun suatu teori atau aliran khusus filsafat. Sebaliknya ia ingin menghancurkan filsafat guna menegakkan, mendukung atau menghidupkan ilmu-ilmu agama. Melalui logika dan filsafat itu sendiri, akal sebagai satu-satunya pijakan tanpa petunjuk wahyu, hanya akan membawa manusia pada kebingungan dalam pertentangan yang tiada hentinya. Tidak adil rasanya kalau menuduh al-Ghazali -akibat serangannya terhadap filsafat- bahwa ia telah menentang dan mengingkari peranan akal. Hal ini sering menjadi kesimpulan para peneliti tentang al-Ghazali yang tergesa-gesa menarik konklusi. Lalu mereka menyatakan bahwa dengan kitab “Tahafut al-Falasifah” al-Ghazali telah menghancurkan kekuatan akal.

Sebenarnya al-Ghazali menjunjung tinggi akal kritis yang bebas, mengalahkan akal yang dipenuhi taklid yang senantiasa menerima pendapat para tokoh tanpa menguji kebenarannya terlebih dahulu. Meninggalkan akal yang bebas dalam pandangannya berarti juga meninggikan keimanan. Menurutnya dalam Islam tidak ada pertentangan antara akal dan wahyu. (Yusuf al-Qaradhawi, 1997:27). Namun masyarakat muslim menanggapi secara keliru terhadap serangan al-Ghazali terhadap filsafat tersebut.

Amin Abdullah (1999:271) pernah memberikan ilustrasi tentang sikap orang muslim terhadap ajaran filsafat, dengan pandangan sebelah mata bahkan banyak yang menutup mata sama sekali . Dia mengibaratkan seperti orang melihat hutan yang tertutup oleh sebatang pohon. Pohon yang dimaksud adalam argumen al-Ghazali yang menyerang filsafat, sedang hutannya adalah dunia filsafat itu sendiri. Dikira bahwa filsafat itu cuma sebatas pada metafisika. Sehingga argumen metafisika filsafat diserang oleh al-Ghazali, maka tumbanglah dunia filsafat itu pada umumnya. Uraian al-Ghazali tentang hubungan sebab akibat (causality) dirasakan oleh banyak pihak sangat controversial, terutama dalam kaitannya dengan pembentukan etos ilmu -bukan dalam kaitannya dengan hakikat kausalitas secara metafisik. Hukum kausalitas oleh al-Ghazali diserahkan kepada kekuasaan mutlak Tuhan. Manusia tidak boleh mengatakan bahwa “banyak anak akan berakibat pada kelanjutan pendidikan anak, ekonomi dan kesejahteraan keluarga, dan sebagainya”, karena hal itu jika diyakini, dianggap akan menegaskan kekuasaan Tuhan dalam memberikan rezeki. Sedang Tuhan dalam memberi rezeki tidak terikat dengan perhitungan logis-ekonomis manusia (Amin Abdullah, 1999:273). Menurut penulis, argumen ini erat kaitannya dengan keinginan al-Ghazali untuk mempertahankan konsepsi “mu’jizat” secara tradisional dan “kekuasaan absolut Tuhan”. Tuhan dapat dengan mudah merubah tongkat menjadi ular tanpa harus tunduk pada aturan logika dan aturan hukum sebab akibat. Sayangnya dia tidak memberikan penjelasan logis tentang argumen tersebut.

Kaum modernis akan mengatakan bahwa al-Ghazali masih bersiteguh dalam dunia metafisika-spekulatif, sedang orang lain sudah turun ke bumi mencari rumus-rumus hukum sebab-akibat tersebut, tanpa mengurangi arti metafisika. Secara kongkrit dapat digambarkan seperti berikut. Ketika dalam kehidupan sehari-hari kita melihat buah kelapa selalu jatuh ke bawah, al-Ghazali akan bilang bahwa hal itu adalah “Sunnatullah” dan berhenti sampai disitu saja. Pertanyaan teologis-metafisis seperti itu sepenuhnya benar, tapi karena hanya terhenti sampai disitu saja maka pernyataan tadi terasa kontroversial bila dihadapkan kepada aturan logika dan kausalitas. Kalau saja al-Ghazali memotivisir orang untuk merumuskan jawaban tentang peristiwa tersebut, dengan disertai uji coba yang tak kenal lelah, maka etos ilmu pengetahuan akan tumbuh subur dengan sendirinya.

Mengenai filsafat kekekalan alam, Ibnu Rusyd menjelaskan bahwa pendapat kaum teolog tentang dijadikan alam dari “tiada’ tidak berdasar pada argumen syari’at yang kuat. Tidak ada ayat-ayat yang menyatakan bahwa Tuhan pada mulanya berwujud sendiri, yaitu tidak ada wujud selain dari wujud-Nya, dan kemudian barulah alam dijadikan. Menurutnya ayat-ayat Alquran mengatakan bahwa alam dijadikan bukanlah dari “tiada”, tetapi dari sesuatu yang telah ada sebelum alam mempunyai wujud. Oleh karena itu Ibnu Rusyd berpegang dengan ayat 48 surah Ibrahim, yaitu: “(yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan meraka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”.

Berdasarkan ayat ini Ibnu Rusyd berpendapat bahwa menurutnya alam itu betul diciptakan, tetapi diciptakan dalam penciptaan terus menerus. Dengan kata lain bahwa alam itu kekal.

Tentang persoalan kedua, bahwa Tuhan tidak mengetahui perincian yang ada dalam alam. Ibnu Rusyd mengatakan bahwa al-Ghazali salah faham, karena tidak pernah kaum filosuf mengatakan yang demikian. Menurutnya kaum filosof mengatakan bahwa pengetahuan Tuhan tentang perincian yang terjadi dalam alam tidak sama dengan pengetahuan manusia tentang perincian itu. Pengetahuan manuisa mengambil bentuk effek, sedang pengetahuan Tuhan merupakan sebab, yaitu sebab bagi terwujudnya perincian.

Mengenai soal ketiga, kebangkitan jasmani tidak ada dan yang ada hanyalah kebangkitan rohani, Ibnu Rusyd menuduh al-Ghazali mengatakan hal-hal yang bertentangan. Bukunya “Tahafut al-Falasifah” mengatakan bahwa tidak ada orang Islam yang berpendapat bahwa pembangkitan akan terjadi hanya bentuk rohani. Tetapi dalam buku lain al-Ghazali menulis bahwa bagi kaum sufi pembangkitan akan terjadi hanya dalam bentuk rohani, tidak dalam bentuk jasmani. Dengan demikian sebenarnya tidak ada konsensus mengenai pembangkitan hari kiamat, baik dalam bentuk jasmani maupun dalam bentuk rohani. Oleh karena itu kaum filosof yang berpendapat bahwa kebangkitan jasmani tidak ada tak dapat dikafirkan (Harun Nasution, 1992:65). Ibnu Rusyd berpendapat bahwa hanya bagi orang awam persoalan pembangkitan itu perlu digambarkan dalam bentuk jasmani, karena pembangkitan jasmani lebih mendorong mereka untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik.

Dalam sejarah pemikiran Islam, kita jumpai lembaran-lembaran hitam, yakni terjadinya diskriminasi terhadap perkembangan filsafat. Begitu pula yang dialami Ibnu Rusyd. Khalifah Andaludia, yaitu al-Manshur ibn Abu Ya’qub dengan usulan fuqaha telah memerintahkan untuk menghakimi dan membakar buku-buku Ibnu Rusyd yang ada di wilayah Andalusia dan Maroko. Karena fikiran filsafat diangga sebagai racun agama (Ahmad Amin, 2001:194).

Oleh karena Ibnu Rusyd berusaha membuktikan kebenaran Allah melalui hukum kausalitas, yang tidak bisa diterima kaum fuqaha, maka terjadilah tuduhan kontroversial terhadap pemikirannya. Menurutnya tidak ada sesuatu yang ada tanpa sebab. Semua sebab beraturan hingga Sebab Pertama, yakni penciptaan alam semesta, atau sebab penciptaan yang selalu bergerak dan terus menerus berganti. Menanggapi tuduhan tersebut, maka Ibnu Rusyd mencoba meyakinkan bahwa warisan pemikiran Yunani tidak ada yang bertentangan dengan Islam. Bahkan kemungkinan untuk menggabungkan antara keduanya sangat besar. Ibnu Ruysd berkata: “Sesungguhnya hakikat kebenaran itu hanya satu, manusialah yang menggambarkan bentuknya bermacam-macam”. (Ahmad Amin, 2001:194)

Penutup
Untuk mendapatkan pemahaman tentang pemikiran al-Ghazali dan Ibnu Rusyd secara objektif, maka kita haruslah menggunakan pola pikir dan orientasi yang sama, sebagaimana yang mereka gunakan dan kehendaki. Jadi, kalau buku-buku yang menjadi referensi utama kita saja selalu berusaha apresiatif terhadap kondisi-kondisi yang meliputi obyeknya, maka alangkah baiknya kila kita belajar dari hal tersebut, sehingga Islam yang disebut sebagai rahmatan lil ‘alamin betul-betul terasa hadir dan “menyapa” setiap umat.

Daftar Pustaka
A. Hanafi. 1979. Theology Islam (Ilmu Kalam). Jakarta; Bulan Bintang.
Ahmad Amin. 2001. Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam. Bandung; Remaja Rosdakarya.
Amin Abdullah. 1999. Studi Islam: Normativitas atau Historistas. Yogyakarta; Pustaka Pelajar.
Departemen Agama RI. 1993. Alquran dan Terjemahnya. Bandung; Gema Risalah.
Harun Nasution. 1992. Filsafat dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta; Bulan Bintang.
---------------. 1986. Islam ditinjau dari berbagai aspeknya. Jakarta; UI Press
Hasyimsyah Nasution. 1999. Filsafat Islam. Jakarta; Gaya Media Pratama.
Hery Sucipto. 2003. Ensiklopedi Tokoh Islam dari Abu Bakr hingga Nasr dan Qardhawi. Bandung; Mizan.
M.M. Syarif. 1985. Para Filosof Muslim. Bandung; Mizan.
Yusuf al-Qaradhawi. 1997. Pro Kontra Pemikiran al-Ghazali. Surabaya; Risalah Gusti.

Catatan:
Ditulis oleh H. Mubarak, S.Pd.I., M.Pd.I. Makalah ini disajikan dalam diskusi ilmiah dosen FAI Unikarta.